Page 312 - Filosofi Teras
P. 312

On Tranquility:

                         Alkisah, seorang bernama Julius Canus dihukum mati oleh
                         Kaisar Gaius. Selama 10 hari menunggu hukuman Canus tetap
                         tenang, tidak gelisah sama sekali.

                         Ketika akhirnya pasukan menjemput Canus untuk dieksekusi, ia
                         sedang main catur. Saat dipanggil kepala pasukan, ia
                         menghitung bidak caturnya dan berkata kepada lawan mainnya,
                         “Eh, kalo saya mati kalian jangan ngaku- ngaku menang di

                         permainan catur ini ya....”
                         Kemudian Canus menoleh pada kepala pasukan, "Kamu jadi
                         saksi kalau saya sebenarnya sedang menang ya.”

                         Teman-teman Canus meratapinya, tapi Canus berkata, "Kenapa
                         kalian sedih sih? Selama ini kalian selalu ingin tahu apakah ada
                         kehidupan sesudah kematian, nah, saya akan segera tahu!”

                         Mendekati tempat eksekusi, Canus ditanya oleh guru
                         filsafatnya, "Apa yang kamu pikirkan?" Jawab Canus, "Saya
                         berencana mencatat apakah jiwa menyadari saat ia
                         meninggalkan tubuhnya.” la berjanji akan melaporkan temuan

                         apa pun ke teman-temannya sesudah ia mati.

                   Dalam topik kematian pun, para filsuf Stoa masih bisa bercanda.
                   Namun, ujaran Epictetus soal makan siang sebelum waktunya mati
                   tadi sungguh bermakna dalam. Kematian tidak perlu dibesar-
                   besarkan, karena memang sudah bagian dari hidup. Kemudian, jika
                   waktu masih memungkinkan, kita bisa "makan siang dulu” tanpa
                   harus memusingkan hal yang belum terjadi. Bagi saya perkataan

                   "makan siang dulu” dari Epictetus bisa dimaknai literal [beneran
                   makan siang), atau bermakna bahwa harus terus berkegiatan sampai
                   detik terakhir.

                   Kisah Seneca mengenai Canus pun juga menggambarkan prinsip
                   yang sama. Bahwa kematian yang sudah dekat jangan dibiarkan
                   merebut kebahagiaan semasa hidup, bahkan sampai momen-

                   momen terakhir sekalipun. Jika perlu, kematian bisa dijadikan
                   kesempatan belajar hal yang baru, seperti Canus yang tertarik
                   mengetahui apa yang dirasakan jiwa saat meninggalkan tubuh ini.

                   Apakah kita masih takut akan kematian? Pilihan itu sepenuhnya di
                   tangan kita.












                                                            279                       HENRY MANAMPIRING
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317