Page 27 - MODUL - PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI KELAS 12
P. 27
4. Penjelasan/Tafsir
Ayat di atas menjelaskan bahwa meskipun dalam
keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran yang Tips Musyawarah yang
Islami dan Demokratis
dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam
1. Luruskan niat!
Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin
2. Sampaikan pendapat dengan santun!
menderita kekalahan, tetapi Rasulullah saw. tetap
3. Hargai pendapat orang lain!
lemah lembut dan tidak marah terhadap para
4. Hormati keputusan bersama
pelanggar. Bahkan memaafkan dan memohonkan
(kesepakatan)!
ampun untuk mereka. Seandainya Rasulullah saw.
5. Jalankan kesepakatan dengan
bersikap keras, tentu mereka akan menaruh benci tawakal!
kepada beliau. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau 6. Berharaplah agar keputusan tersebut
juga senantiasa memberi maaf terhadap orang yang membawa berkah dan maslahat bagi
berbuat salah serta memohonkan ampun kepada umat!
Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan mereka.
Di samping itu, Rasulullah saw. juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang
hal-hal yang penting, terutama dalam masalah peperangan. Oleh karena itu, kaum muslimin
patuh terhadap keputusan- keputusan yang diperoleh tersebut, karena merupakan keputusan
mereka bersama Rasulullah saw. Mereka tetap berjuang dengan tekad yang bulat di jalan Allah Swt..
Keluhuran budi Rasulullah saw. inilah yang menarik simpati orang lain, tidak hanya kawan bahkan
lawan pun menjadi tertarik, sehingga mau masuk Islam.
Dalam ayat di atas, tertera tiga sifat dan sikap yang secara berurutan disebut dan diperintahkan untuk
dilaksanakan sebelum bermusyawarah, yaitu lemah lembut, tidak kasar, dan tidak berhati keras.
Meskipun ayat tersebut berbicara dalam konteks perang uhud, tetapi esensi sifat-sifat tersebut harus
dimiliki dan diterapkan oleh setiap muslim, terutama ketika hendak bermusyawarah.
Adapun sikap yang harus diambil setelah bermusyawarah adalah memberi maaf kepada semua
peserta musyawarah, apapun bentuk kesalahannya. Jika semua peserta musyawarah
bersikap“memaafkan”, maka yang terjadi adalah saling memaafkan. Dengan demikian, diharapkan
tidak ada lagi sakit hati atau dendam yang berkelanjutan di luar musyawarah, baik karena
pendapatnya tidak diakomodasi atau karena sebab lain.

