Page 41 - Kumpulan cerita anak
P. 41

aku  alami.  Mama  menjadi  pendengar  paling  setia  semua
           ceritaku. Tidak hanya mendengarkan, Mama juga memberi
           tanggapan.
               Suatu  hari,  aku  berkunjung  ke  rumah  Eyang,  Nenekku.

           Ketika  aku  menceritakan  pengalamanku,  Eyang  sampai
           tertawa terpingkal-pingkal. Kata Eyang, ia bisa ikut merasakan
           apa yang aku alami. Rasa senang bercampur bangga langsung
           membanjiri rongga dadaku. Aku jadi semakin bersemangat
           menceritakan pengalaman-pengalamanku yang lain kepada

           Eyang, juga kepada anggota keluargaku yang lain.
               Semakin  lama,  ceritaku  semakin  panjang  dan  detil.
           Suatu hari, saat Mama sedang kurang sehat, ia tidak tahan
           mendengar  aku  berbicara  panjang.  Aku  diminta  untuk
           bercerita nanti saja. Tapi, aku juga tidak bisa menahan diri
           untuk  tidak  menyampaikannya.  Aku  takut,  kalau  ditunda-

           tunda, nanti aku malah lupa.
               Akhirnya,  Mama  menyuruhku  menuliskan  saja  semua
           yang  ingin  aku  ceritakan  itu,  agar  nanti  bisa  dibaca  oleh
           Mama, saat pusingnya sudah hilang. Aku menurut saja, lantas
           menuliskan seluruh pengalamanku hari itu. Setelah selesai,

           aku menunjukkannya kepada Mama.
               Sedihnya, ceritaku menjadi aneh dan tidak se-asyik bila
           aku ceritakan langsung secara lisan. Kata Mama, itu semua
           karena  tulisanku    tidak  ada  tanda  bacanya  sama  sekali.
           Sejak saat itulah aku mulai belajar menulis. Dimulai dengan
           membuat catatan harian, alias diary.

               Jadi, aku mulai membuat diary saat kelas satu SD. Isi diary-





           36                   10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) Tahun 2015
   36   37   38   39   40   41   42   43   44