Page 4 - Edisi 168 Tahun 2019 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 4
(Bagisn 4)
SEMENTARA Ibn al-Jazari mengatakan O l e h : dengan apa yang mudah bagi mereka. Perkataan
bahwa 7 macam perbedaan itu adalah : nabi ini memberikanpemahaman bahwa
Perbedaan harakat tanpa merobah makna Taufiq Hidayat mempertahankan keseluruhan al-Ahruf as-
dan bentuk kalimat seperti : ( ) ( ) Sab’ah adalah tidaklah wajib. Betapapun
Perbedaan huruf yang menyebabkan perbedaan sahabatnya: 1. dengan “aujuh mutaghayirah” demikian, bacaan yang mutawatir perlu
makna bukan bentuk kalimat (shurah) seperti: (beragam bacaan). Satu bacaan berbeda dilestarikan untuk menjaga keaslian dan ke
( ) dengan lainnya dari segi cara pelafalannya. otentikan Al-Qur’an.
Perbedaan huruf yang menyebabkan Perbedaan tersebut adakalanya terkait dengan
perbedaan makna, tapi tidak dalam bentuk bahasa, dialek, atau lainnya. Adakalanya II.Masa Perkembangan.
kalimatnya(shurah) seperti : ( menyebabkan perbedaan makna dan adakalanya Masa perkembangan qira’at ditengarai
) ( ) tidak. 2.Beragam bacaan tersebut semuanya dengan tiga hal yaitu :
Perbedaan huruf yang tidak merobah makna “munazzalah” atau diturunkan oleh Allah a. Berpencarnya sahabat nabi di berbagai
seperti : ( ). kepada nabiNya atau semuanya berasal dari pelosok negeri islam untuk mengajarkan
Perobahan huruf dan makna seperti: ( Allah melalui nabiNya. 3.Tujuan dari semuanya Al-Qur’an dan ajaran islam pada umumnya.
( ) ( adalah untuk memudahkan bagi umatnya. b. Munculnya komunitas Al-Qur’an pada
6.Taqdim-Ta’khir seperti : ( ).. Para ulama juga berbeda pendapat tentang setiap negeri.
Tambahan dan pengurangan huruf seperti eksistensi “sab’atu ahruf” saat ini. Apakah c. Munculnya Ahli-Ahli Al-Qur’an pada
:. ( ) (an-Nasyr : 1/38). Ibn masih eksis atau tinggal satu huruf yaitu setiap negeri.
al-Jazari memandang bahwa perbedaan dari Harf Quraisy. Begitu juga mereka berbeda
segi bacaan : Imalah-Fath, Idgham-Izhar, pendapat tentang eksistensi sab’atu ahruf Berikut uraiannya. Fase pertama dari
Raum-Isymam, Tafkhim-Tarqiq, tahqiq- pada rasm usmani. Ada yang mengatakan masa perkembangan qira’at dimulai dari
tashil-Ibdal-Naql, Mad-Qashr, bukan perbedaan tinggal satu yaitu harf quraisy. Ada yang berpencarnya para sahabat nabi ke beberapa
yang hakiki. mengatakan semuanya masih ada, karena negeri islam disusul dengan terbentuknya
umat islam tidak bisa menghilangkan bacaan komunitas ahli qira’at di negeri-negeri tersebut.
Masih banyak lagi ulama yang memberikan yang pernah diajarkan oleh nabi kepada para Seperti Abu Musa al-Asy’ari datang ke kota
komentar terhadap hadis diatas. Imam Sayuthi sahabatnya. Mereka harus mempertahankan basrah dan menyebarkanAl-Qur’an di negeri
menyebutkan sampai 36 pendapat. Dari ke eksistensi Qira’at-qira’at tersebut. Ibn al- tersebut. Ibn Mas’ud ke Kufah, Abud Darda’
36 pendapat tersebut ada yang lebih mendekati jazari berpendapat bahwa tulisan pada mushaf ke kota Syam, dan lain sebagainya. Di kota
kepada “ruh an-nash” ada yang sudah diluar usmani yang ada sajalah yang masih mencakup kota tersebut mereka mengajarkan Al-Qur’an
jalur, seperti mereka yang menganalisa tujuh al-Ahruf as-Sab’ah. kepada kaum muslimin setempat. Bacaan yang
macam perbedaan tersebut terkait dengan Hal itu tidak mengikut sertakan bacaan yang mereka ajarkan adalah apa yang telah mereka
makna, seperti “halal-haram”, “janji-ancaman” telah di nasakh. Menurut pendapat penulis apa terima dari nabi. Setelah mushhaf al-Imam
dan lain sebagainya. Adanya banyak pendapat yang dikatakan oleh Ibn al-Jazari cukup beralasan selesai ditulis pada masa Khalifah Usman,
tersebut dikarenakan tidak adanya satu teks/ mengingat ragam bacaan yang terdapat pada bacaan yang sesuai dengan mushhaf tersebut
nash dari nabi atau sahabat yang menjelaskan qira’ah tujuh atau sepuluh masih bisa dibayangkan langsung di sosialisasikan kepada publik.
arti “Sab’atu Ahruf” sebagaimana dikatakan unsur “taysir” atau kemudahannya seperti Fase berikutnya adalah fase munculnya
oleh Ibn al-‘Arabi seperti dikutip oleh az- bacaan idgham atau imalah dan lain sebagainya. komunitas Al-Qur’an pada setiap negeri.
Zarkasyi dalam kitab “al-Burhan” : Bisa dikatakan bahwa bacaan yang ada pada Pada fase ini muncul para Imam-Imam Qira’at
Qira’at Tujuh dan Sepuluh adalah sebagian pada setiap negeri-negeri Islam. Para pakar
dari al-Ahruf as-Sab’ah yang dahulu pernah Qira’at pada masa lalu seperti : di Madinah
diajarkan oleh nabi kepada para sahabatnya. muncul nama Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah
Artinya : tidak ada satu penjelasanpun Nabi berkata: bin Zubair, Umar bin Abdul Aziz dll. Di
yang menentukan arti dari “sab’atu ahruf” Mekah muncul nama : Ubaid bin Umair,
ini. Oleh karena itu para ulama berbeda ‘Atha’, Thawus dan lain lainnya. Di Kufah
pendapat. muncul nama- nama Aswad bin Yazid,
Dalam pandangan penulis, menentukan Artinya : sesungguhnya Al-Qur’an ini ‘Alqamah, Masruq dan lain lainnya. Di
“sab’atu ahruf” dalam ketiadaan “nash” atau diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah Bashrah muncul ‘Amir bin Abd Qais, Yahya
“atsar” hanyalah ijtihadi saja, bukan merupakan apa yang mudah darinya. bin Ya’mur, Nashr bin ‘Ashim dan lain lainnya.
kepastian. Boleh jadi begitu, boleh juga Perkataan nabi ini menjelaskan bahwa umat Di Syam muncul nama –nama Mughirah
lainnya. Yang perlu digaris bawahi dalam islam tidak wajib membaca semua varian bin Abi Syhihab, Khulaid bin Sa’d dan lain
mengamati arti “sab’atu ahruf” adalah bahwa bacaan, tapi mereka diperbolehkan memilih lainnya.
nabi mengajarkan Al-Qur’an kepada para dari beberapa varian bacaan yang ada sesuai Bersambung
4 Majalah Komunitas Sabilillah
Edisi 168 /Terbit Bulan Maret 2019 / Thn: 07

