Page 424 - Fisika Dasar 2 - Mikrajuddin Abdullah 2017
P. 424

Bab 6 GGL Induksi dan Induktansi


                                Jelas dari pembahasan di atas bahwa perhitungan fluks magnetic
                        tidak selalu mudah. Perhitungan akan cukup sulit jika baik medan magnet

                        maupun  sudut  antara  medan  dan  vector  permukaan  bergantung  pada
                        koordinat  posisi  para  permukaan.  Kadang  integral  langsung  tidak  dapat
                        dilakukan. Proses integral secara numeric merupakan langkah yang harus

                        dilakukan.

                        Contoh 6.1
                                                   
                                                          ˆ
                                Medan  magnet  B      B o (i  2k ˆ )   menembus  bidang  seluas  A  yang

                        diletakkan  sejajar  bidang  x-y  seperti  diilustrasikan  pada  Gambar  6.2.
                        Berapa fluks magnetik yang menembus bidang tersebut?



                              z     
                                    A   A k ˆ





                                       
                                               ˆ
                                      B   B 0 (i  2k ˆ )


                                                            y




                 x

               Gambar 6.2 Gambar untuk Contoh 6.1


                        Jawab
                                             
                                                    ˆ
                                Diberikan  B    B o (i  2k ˆ ) .  Karena  permukaan  sejajar  bidang  x-y
                                
                                      ˆ
                        maka  A    A k   (ingat,  arah  vektor  permukaan  tegak  lurus  permukaan
                                                            
                        tersebut).  Karena  baik  B   dan  A   semuanya  konstan  maka  kita  dapat
                        langsung menulis


                                       
                                   B   A


                                                ˆ
                                           ˆ
                                      ˆ
                                   B o  i (  2 k)   A k
                                                           412
   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428   429