Page 104 - BUKU AJAR MIKROBIOLOGI
P. 104
berpendapat bahwa pengaruh mikoriza lebih nyata pada unsur hara yang terutama
diserap tanaman secara pasif dan sifat ionnya tidak lincah, seperti fosfor yang terutama
diserap oleh akar secara difusi. Fosfor merupakan unsur penting penyusun ATP, dan
ATP merupakan bentuk energi tinggi yang sangat berperanan dalam penyerapan unsur
hara secara aktif, sehingga peningkatan serapan fosfor memungkinkan peningkatan
serapan unsur hara lain yang diserap secara aktif oleh perakaran tanaman.
Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antara jamur
(mykus) tanah kelompok tertentu dan perakaran (rhiza) tumbuhan tingkat tinggi.
Berdasarkan struktur tubuhnya dan cara infeksi terhadap tanaman inang, mikoriza dapat
dikelompokkan ke dalam 3 golongan besar yaitu Endomikoriza, Ektomikoriza, dan
Ektendomikoriza. Endomikoriza lebih dikenal dengan Vesikular Arbuskular Mikoriza atau
disingkat VAM, karena pada simbiosis dengan perakaran dapat membentuk arbuskul
dan vesikula di dalam akar tanaman. Berdasarkan struktur arbuskul atau vesikula yang
dibentuk, maka VAM dapat digolongkan ke dalam 2 sub ordo, yaitu Gigaspoinae dan
Glominae. Sub ordo Gigaspoinae terdiri atas satu famili Gigaspoceae yang
beranggotakan 2 genus yaitu Gigaspora sp. dan Scutellospora sp. Kedua genus ini tidak
membentuk struktur vesikula tetapi hanya membentuk arbuskul apabila berasosiasi
dengan akar tumbuhan. Salah satu anggota sub ordo Glominae adalah Glomus sp.
Vesikular Arbuskular Mikoriza merupakan simbiosa antara jamur tanah yang
termasuk kelompok Endogonales dengan semua tanaman yang termasuk dalam
Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae, kecuali pada famili
Cruciferae, Chenopodiaceae dan Cyperaceae yang belum diketahui adanya simbiosis
dengan jamur tersebut. Simbiosis antara tanaman dengan mikoriza terjadi dengan
adanya pemberian karbohidrat dari tanaman kepada jamur dan pemberian unsur hara
terutama P dari jamur kepada tanaman. Oleh karena itu perkembangan mikoriza pada
akar sangat tergantung pada tingkat fotosintesis tanaman inang. Jamur membutuhkan
senyawa carbon yang dihasilkan oleh tanaman inang, sehingga kemampuan tanaman
untuk mensuplai senyawa carbon dari hasil fotosintesis menentukan keberhasilan
tanaman bersimbiosis dengan jamur. Akar tanaman dapat menghasilkan senyawa yang
dapat merangsang pertumbuhan jamur VAM. Senyawa tersebut berupa flavonoid yang
disebut eupalitin (3,5-dihidroksi-6,7-dimetoksi-4-hidroksi flavon) yang dapat merangsang
105 105
105 105

