Page 49 - Majalah Aceh TRANSit Edisi Khusus KMP Aceh Hebat
P. 49

Kotak Hitam




 Kacamata Kuda  *)




 K Sekitar  abad  ke-13-an,  bangsa-bangsa  di  Eropa  telah   atau saling mengumpat satu sama lain, semua yang dilakukan saat ini

 menjadi gambaran bagi kehidupan yang mendatang.
 menggunakan  kereta  kuda  sebagai  alat  transportasi  yang
 diandalkan,  pada  awalnya  hanya  mampu  dimiliki  oleh  kaum
 bangsawan  yang  mapan.  Begitu  pun,  Kerajaan  Romawi  sering   Legacy dapat berwujud dalam bentuk apapun, dari hal yang sepele bak
 menggambarkan tingkatan “kasta” seseorang terlihat dari kereta kuda   ucapan  atau  umpatan  hingga  hal  yang  luar  biasa.  Seperti  halnya  “arti
 yang  ditumpangi,  dapat  juga  berfungsi  sebagai  pendukung  perang   sebuah  nama”,  apakah  akan  pantas  dikenang  atau  harus  dilupakan,
 yang  merupakan  simbol  kegagahan  dan  kemenangan.  Kereta  yang   Nama bagaikan doa dari sebuah “karya” akan menjadi gaung yang terus
 dihela kuda ini terus dikembangkan dengan rancangan khusus untuk   meresonansi, karena sebuat nama yang disematkan untuk menciptakan
 membawa penumpang atau barang dengan kabin yang nyaman.   kesuksesan perubahan pada peradaban.
 Kesuksesan  sebuah  tim  dalam  menciptakan  “mahakarya”  juga  tidak
 Salah  satu  dari  perkembangan  kebutuhan  kereta  kuda  dalam
 “bertransformasi”  agar  lebih  gesit  dan  lincah.  Desakan  pengguna   terlepas  dari  sosok  kepemimpinan.  Karena,  seorang  pemimpin  sejati
 transportasi, pengembang kereta kuda berpikir dan berjuang sekuat   pembawa “tongkat” estafet perubahan, arah roda dan kemudi perusahaan,
 tenaga hingga melahirkan istilah coupe, kereta kuda yang lebih kecil   dibawa  bergerak  ke  arah  puncak  atau  malah  menuruni  lembah,
 dan juga lebih ringan meskipun beroda empat dengan kapasitas dua   semuanya dalam kendali seorang pemimpin. ditangannya tongkat yang
 penumpang.  Dari  sinilah  industri  otomotif  “merintis”  mobil  sport   dipegang lebih berat, karena ujian akhir dari seorang pemimpin adalah
 mewah tipe coupe yang hanya memuat dua penumpang. Kemewahan   bagaimana ia meyakinkan orang lain untuk melanjutkan apa yang telah
 dan kecanggihan yang ditawari oleh mobil coupe menjadi gambaran   dilakukannya dan mengikuti jejaknya. Semua ide dan keberhasilan akan
 dalam “kasta” ukuran keberhasilan pada saat ini.   sirna jika tidak ada orang lain yang melanjutkan misinya. Ibarat seorang
 pelari estafet yang tidak tahu harus memberikan kepada siapa tongkat
 Perkembangan  demi  perkembangan  terus  mengubah  wajah   tersebut.  Orang  mengenang  pemimpin  karena  kredibilitas,  pengaruh
 transportasi  dari  kereta  kuda,  kenderaan  bermesin  uap,  sampai   dan “integritas”.
 semua penyempurnaannya hingga saat ini. Sejarah perkembangannya
 merupakan  sebuah  “legacy”  dari  pendahulu  yang  dinikmati  dan   Kata  Simon  Sinek  melalui  penanya,  ideologi  yang  terpenting  dalam
 dinilai menjadi simbol kesuksesan dari sebuah “karya” menakjubkan.   membangun  sebuah  keajaiban  adalah  “integritas”  yang  membuat  kita
 Sebuah penemuan memang tidak terwujud dalam sekejap mata, akan   percaya satu sama lain. kepercayaan yang dijaga oleh seorang pemimpin
 tetapi dibayar dengan kerja keras yang berlanjut dari satu generasi   menciptakan  kultur  yang  baik  bagi  lingkungannya  serta  mendorong
 ke generasi berikutnya, semangat dari misi mendekatkan yang jauh   keputusan  seorang  leader  dalam  menyelamatkan  pasukannya.  Namun
 untuk mempermudah aksesibilitas, sehingga saling terhubung satu   yang  terpenting  adalah,  “Kepercayaan  dibangun  hanya  dengan
 sama lain dengan mudah.   mengatakan kebenaran”.
 Kita  semua  meninggalkan  jejak  di  tempat  “karya”  dimulai  dan
 Felix  Adamson,  penulis  buku  bertajuk  Legacy  :  Hidup  Berguna,
 Mati  Mulia  mengaksarakan  bahwa  kita  mungkin  belum  tersadar   diselesaikan. Selayaknya, Musisi akan meninggalkan musiknya, penulis
 bahwa kemudahan yang kita rasakan saat ini merupakan kebaikan   akan  meninggalkan  bukunya,  penyair  akan  meninggalkan  kata-kata
 dan  “legacy”  pendahulu  kita.  Seperti  lari  estafet,  “tongkat”  estafet   indahnya. Setiap tindakan dan perkataan akan menjadi legacy, banyak
 harus  diserahkan  untuk  pelari  berikutnya.  Sekarang,  giliran  kita   orang  yang  hebat  melakukan  perbuatan  maupun  perkataannya  telah
 berlari  membawa  tanggung  jawab  melakukan  yang  terbaik  untuk   meninggalkan  kesan  mendalam,  hal  inilah  yang  senantiasa  dikenang
 menyerahkan  sebuah  legacy  yang  akan  dikenang  anak  cucu  dan   dari  generasi  ke  generasi.  Persis  yang  dikatakan  Kahlil  Gibran,  “Kata-
 orang sekitar. Jika tidak, mungkin kita hanya sekedar lewat di dunia   kata  tidak  mengenal  waktu.  Kamu  harus  mengucapkannya  atau
 ini dengan “datang tak menggenapi, pergi tak mengganjilkan!”.   menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya”.
 Pepatah lain pun berkata, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.
 Hari ini, kitalah yang akan memilih peradaban ke depan, kita akan
 memberi  sedikit  ”inspirasi”  atau  kenangan  buruk,  semua  pilihan   Pertanyaan bagi diri kita sendiri, sumbangsih seperti apa yang telah kita
 ada  di  tangan  kita  sekarang.  Banyak  cara  yang  dapat  kita  lakukan   berikan meski untuk sebuah perubahan kecil bagi lingkungan sekitar kita,
 untuk meninggalkan legacy. Bisa jadi tindakan atau bahkan ucapan   Kita tahu bahwa kereta kuda telah menginspirasi penciptaan dan menjadi
 yang terdengar sepele dapat menggerakkan suatu perubahan besar.   “mahakarya” dalam kelompoknya, sehingga pengembangannya berabad
 “karya” sederhana yang baik nan bermanfaat atau sumpah serapah   kemudian telah me-legacykan transportasi yang menyejahterakan, pada
 yang menyakiti.  saat semua pekerja keras di masa lalu sudah tidak lagi menikmatinya.

 Apalagi,  zaman  yang  serba  digital  saat  ini,  sebuah  “perkataan”  di
 media  sosial  akan  terekam  jejak  digitalnya.  Pada  masanya,  kata-  *) Mohon maaf, seharusnya judul tulisan ini “Kereta Kuda”
 kata ini akan menjadi legacy bagi generasi, mereka akan mencontoh
 apa  yang  menjadi  “integritas”  saat  ini,  saling  menyatukah  mereka
 Junaidi Ali

 48  ACEH TRANSIT
   44   45   46   47   48   49   50