Page 5 - MEDIA 3_Neat
P. 5
Terima Kasih, Rahman
Cerpen Karangan: R. Kararia
Baru saja aku melihat wajah malaikat. Wajah tanpa beban yang selalu tersenyum. Wajah
seorang anak yang masih mengenakan seragam kebesarannya yang sudah tampak kumal.
Mungkin dulu milik sang kakak. Berjalan tenang dengan langkah-langkah kecilnya.
Memperhatikan teman seperjalannya yang sedang bercerita. Bibirnya masih melengkung, dan
matanya menatap sang teman dalam.
Ingatanku kembali terbang. Mencoba memperjelas gambar-gambar yang telah pudar.
Merangkai kembali peristiwa dengan seorang teman di masa lalu. Mencoba mengingatnya,
dan membuat rasa syukur kembali meluap melalui air mata yang memberontak keluar.
Rahman. Bocah SD teman sekelasku beberapa tahun lalu. Entah bagaimana dan di mana dia
sekarang. Satu yang membekas tentang Rahman di ingatanku. Rasa syukurnya, dan
kehangatan keluarga.
Kala itu kenaikan kelas. Para orangtua datang untuk mengambil rapor anak-anaknya, termasuk
ibu Rahman. Bapaknya menunggu di luar pagar sekolah. Entah kenapa enggan untuk masuk.
Tentu saja rasa bangga menyeruak dalam hati ketika memiliki anak yang cerdas dan
berkelakuan baik. Tapi itu bukan Rahman. Ia bukan anak yang memiliki dua sifat itu. Bahkan
beberapa kali ia dipanggil kepala sekolah kami karena prestasinya memang tak dapat
diandalkan. Ditambah kelakuannya yang sangat usil padaku dan juga teman-teman.

