Page 6 - MEDIA 3_Neat
P. 6
Tapi hari itu aku melihat sesuatu yang lain dalam dirinya. Rahman naik kelas dan orangtuanya
bangga. Cukup naik kelas. Saat anak lain dimarahi karena nilainya hanya 70, Rahman hanya
perlu naik kelas. Cukup naik kelas. Terlihat betapa orang tuanya beritu menyayanginya. Saat
ditanya apa yang diinginkannya sebagai hadiah untuk kenaikan kelas ini, ia hanya berkata,
“buk, aku pengen es teh.” (Buk, aku ingin es teh). Ya hanya itu yang diinginkannya. Anak lain
pasti sudah meminta tamiya seri tradager-X, setumpuk kartu yugi oh, Barbie terbaru,
tamagochi, atau mainan lain yang memang sedang tren saat itu. Rahman cukup senang
dengan satu plastik es teh. Kulihat ayahnya tersenyum dan ibunya mengelus lembut kepala
Rahman yang asyik dengan es teh plastik di tangannya.
Tiap pulang sekolah memang Rahman terbiasa ikut tetangganya mengamen. Mungkin karena
keadaan ekonomi keluarganya memang tidak memungkinkan. Mungkin itu juga yang
membuat prestasi, gaya bicara dan tingkah lakunya di sekolah tak sebaik teman-teman yang
lain. Tapi saat itu aku mengerti. Rahman anak yang baik. Ia anak yang berbakti.
Dan dari Rahman dan satu kantong plastik es teh nya, aku belajar menerima keadaan,
berjuang dengan gigih dan bersyukur. Terima kasih telah memberiku kesempatan melihat
secuil kebahagiaan dengan hal yang sederhana.
Sumber : https://bocahkampus.com/contoh-cerpen#anak

