Page 715 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 715

Keping 99


           inheren dari proses saya berkarya. Di sela-sela itu semua, saya
           menyempatkan diri belajar ulang dengan mengikuti berbagai

           kursus dan mempelajari bermacam referensi teknik menulis,
           termasuk berbagi pengalaman dan teknik menulis saya sendiri
           melalui rangkaian  workshop  ke berbagai kota. Betapa itu
           semua  menyadarkan  saya bahwa penguasaan seni  menulis,
           sebagaimana hakikat seni pada umumnya, membutuhkan

           kerja keras dan pembelajaran seumur hidup. Bukan sekadar
           modal hasrat dan angan-angan.
             Inteligensi Embun Pagi (IEP)  sungguh memberikan saya
           pengalaman yang menyeluruh. Ketika sebuah serial tumbuh
           belasan tahun bersama pembacanya dan memiliki basis
           penggemar yang makin solid, rentan bagi penulis untuk
           kehilangan orientasi. Tuntutan, kritik, komentar, dan harapan
           pembaca mulai rembes ke benak penulis, membayangi bagai

           kabut dan mulai membentuk keputusan-keputusan kreatifnya.
           Sebagai episode penutup, tentunya saya berusaha semaksimal
           dan sehati-hati mungkin menuliskan IEP. Ekspektasi pembaca
           dan ekspektasi pribadi menjadi beban besar untuk dipanggul.
           Kadang, beban itu menciptakan blokade yang kontraproduktif

           dengan proses kreatif.
             Pada satu titik tersulit, saya berdiskusi dengan suami saya,
           Reza. Dalam keluh kesah itu, saya akhirnya menemukan
           secercah pencerahan pribadi. Ketika saya berhasil menyeruak
           kabut ekspektasi dan kembali melihat tujuan saya yang
           sebenarnya, apa yang saya temukan sungguhlah sederhana.



           700
   710   711   712   713   714   715   716   717   718   719   720