Page 168 - Filosofi Teras
P. 168

ada lalat di dalam sup, atau mengapa ada lalat di dalam restoran,
                       atau bahkan mengapa harus ada lalat di dunia ini adalah pemborosan

                       energi, waktu, dan juga mungkin mengurangi kebahagiaan teman
                       makan kamu [of course, kamu bisa memberi restoran tersebut review
                       jelek di internet, dan ini masuk kendali kamu, tapi toh tidak mengubah
                       sejarah bahwa seekor lalat pernah mandi di sup kamu, jadi tidak perlu
                       gusar terlalu lama).

                       Daftar hal tidak nyaman di dunia yang sepele ada begitu banyaknya,

                       dan jika dihitung, mungkin jumlah kejadian tidak enak di dalam hidup
                       jauh lebih banyak dari yang enak. Antrean ATM panjang di akhir
                       bulan, macet, daging steak yang tidak dimasak sempurna, sate yang
                       hangus, cucian yang rusak oleh si mbak, polisi cepek yang malah
                       bikin macet, dosen yang random banget kalau memberi nilai, politisi
                       yang ngomong sembarangan, followeryang senang mencela, dan lain-
                       lain.


                       Seperti Gus Dur, Stoisisme menganjurkan di banyak situasi untuk
                       cukup menghindari dan mencari solusinya, tidak perlu menghabiskan
                       energi untuk meributkannya. Sering kali, banyak masalah sepele tidak
                       perlu dicari solusinya, cukup dihindari, seperti sekadar membuang
                       ketimun pahit atau mengambil jalan memutar. Gituaja kok repot?


                             "Satu hal penting untuk selalu diingat: tingkat perhatian kita
                             harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kamu
                             tidak memberikan kepada hal-hal remeh waktu lebih banyak dari
                             selayaknya.” - Marcus Aurelius [Meditations)

                       Berikut kali kita ingin ngedumet, marah, kesal, sedih, jengkel berlama-
                       lama, dipikirkan dulu. Is it really worth my time and energy? Apakah

                       objek, kejadian, orang yang akan kita berikan waktu dan tenaga untuk
                       emosi negatif ini benar-benar sepadan? Rugi kan jika kita
                       mencurahkan waktu, pikiran, emosi, dan kebahagiaan kita untuk
                       memusingkan hal-hal yang tidak sepadan?



                       Sebuah Eksperimen yang (Separuh) Berhasil?


                       Di tahun 2011, jauh sebelum saya menemukan Filosofi Teras, saya
                       iseng melakukan sebuah eksperimen sosial dengan menyeret para
                       followers saya di media sosial. Saat itu saya terinspirasi oleh sebuah
                       episode di The Oprah Winfrey Show di mana Oprah Winfrey, sang

                       tuan rumah, menghadirkan bintang tamu seorang pendeta yang
                       memiliki gerakan No Complaint (Tidak Mengeluh). Sang Pendeta, Will
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173