Page 192 - Filosofi Teras
P. 192

menunjukkan kalau ada begitu banyak hal-hal menyebalkan yang
                   kita lakukan kepada satu sama lain, baik sengaja maupun
                   tidak disengaja. Manusia saling menyebalkan satu sama lain,
                   misalnya lewat basa-basi ngeselin seperti, “Kapan kawin?”,
                   “Kapan punya anak?”, “Kok kamu gendutan sekarang?”, dan
                   lain-lain. Perilaku menyebalkan ini juga termasuk tindakan-
                   tindakan kecil kita, seperti main HP di dalam bioskop, masuk
                   lift tidak menunggu yang keluar terlebih dahulu, atau segala
                   perilaku tidak tertib di jalan raya. Lagi-lagi, tidak ada
                   yang banyak berubah sejak 2.000 tahun yang lalu: kita sering
                   dibuat sebal oleh orang lain. Di pembahasan sebelumnya
                   mengenai premeditatio malorum, kita melihat bagaimana Marcus
                   Aurelius menjadikan kebiasaan untuk mengawali hari dengan
                   membayangkan semua hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan
                   orang lain kepada kita.
                   People hurt and offend each other—manusia saling menyakiti dan
                   menyinggung sesamanya—ini kenyataan. Tidak ada tempat di mana pun
                   di dunia ini untuk kita bisa menghindari orang-orang menyebalkan, bahkan
                   di tempat ibadah sekalipun. Mungkin hanya di surga kita terbebas dari
                   perilaku menyebalkan. Karena ini adalah realitas, maka seorang praktisi

                   Stoisisme sudah harus bisa mengantisipasinya. “Mengharapkan orang
                   jahat untuk tidak menyakiti orang lain adalah gila. Itu adalah meminta hal
                   yang tidak mungkin. Arogan sekali jika kita bisa memaklumi orang jahat
                   memperlakukan orang lain seperti itu tetapi kita tidak terima jika terjadi
                   pada kita. Itu kelakuan seorang tiran,” ujar Marcus Aurelius [Meditations).
                   Kalau dibahasakan ulang, ya wajar dong orang jahat menyakiti orang lain.
                   Yang aneh itu kalo lo berharap sebaliknya. Lebih ngeselin lagi kalo lo

                   berharap mendapat kekecualian, orang lain boleh disakiti kecuali lo. Siape
                   lo?

                   Bayangkan betapa seringnya kita membaca tentang perlakuan buruk
                   orang ke orang lainnya. Kita sering kali mengelus dada dan berdecak. Kok
                   bisa ya? Cuma ya sebatas itu saja, kita hanya “merasa prihatin" jika itu
                   terjadi pada orang lain. Filosofi Teras mengingatkan kita untuk selalu siap
                   bahwa kita pun akan mendapat perlakuan buruk suatu saat dalam hidup

                   kita. Saat kita diperlakukan buruk oleh orang lain, apakah kita bisa
                   setenang jika menyikapi pengalaman orang lain? Atau, kita akan marah-
                   marah lebay?



















                                                               161
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197