Page 72 - MODUL KELAS 4 TEMA 5
P. 72
Tidak berapa lama usai merebut senjata di Wongaya Gede, Pak Kucing dan
pasukannya diperintahkan ke Munduk Malang. Setelah terbentuknya Markas Besar
Oemoem Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (MBO DPRI) Sunda Kecil di Munduk
Malang, Pak Kucing lebih sering diberikan kepercayaan untuk menghadang musuh
ataupun melakukan sebuah penghadangan terhadap pasukan musuh.
Aksi penghadangan pertama kali yang dipimpin Pak Kucing ketika pasukan NICA
akan menuju Antasari. Pak Kucing bersama pasukannya menghadang dari sebuah
tebing di dekat jembatan Tukad Yeh Ho. Begitu serdadu NICA memasuki jembatan, Pak
Kucing dan pasukannya segera melakukan penyerangan dari jarak kurang lebih 200
meter. Oleh serangan Pak Kucing dan pasukannya ini, jeep yang ditumpangi serdadu
NICA tersebut terjungkal dan 10 serdadu NICA tewas. Sementara tidak satupun pejuang
yang dipimpin Pak Kucing yang terluka apalagi gugur.
Pascagugurnya 96 pasukan Ciung Wanara di bawah pimpinan pahlawan besar Bali
I Gusti Ngurah Rai di Margarana pada tanggal 20 November 1946, Pak Kucing justru
makin gigih melawan NICA. Ia pun mendapat perintah dari atasannya untuk membasmi
NICA dan mata-matanya di wilayah Tabanan. Dalam tugasnya ini, Pak Kucing dibantu
oleh sembilan anak buahnya yang tidak hanya setia kepada NKRI, tetapi juga segan
kepada Pak Kucing. Adapun kesembilan anak buahnya tersebut yaitu Artini, Alirman,
Restini, Cenok, Sudin, Sanur, I Gusti Ngurah Cetug, I Gusti Rebed dan I Gusti Kedot.
Tanggal 19 Juli 1947, Keredek bersama pasukannya melakukan pertempuran
hebat di Desa Adeng. Dalam pertempuran tersebut dua orang pasukannya yakni I Gusti
Ngurah Cetug dan Cenok gugur sebagai kusuma bangsa. Usai bertempur di Adeng,
Keredek dan pasukannya menuju Desa Gadungan, kemudian menuju Desa Batuaji.
Di Desa Batuaji ini Keredek bersama para pemuda setempat menyusun strategi untuk
menyerang NICA. Dalam pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya di Desa
Timpag, Pak Kucing dan pasukannya berhasil memukul mundur musuh.
Pada tanggal 25 Mei 1948, Pak Kucing dan pasukannya turun gunung dan
menyerahkan diri di Desa Antosari. NICA kemudian mengangkutnya ke tangsi yang
berlokasi di Desa Baha. Meski telah menjadi tahanan, Pak Kucing tetap mempertahankan
senjatanya dan baru diserahkannya setelah tiga minggu di dalam tahanan.
NICA menuduh Pak Kucing melakukan berbagai penyerangan dan pembunuhan
terhadap serdadu NICA dan ia pun diadili oleh NICA. Seiring dengan berdaulatnya NKRI,
Pak Kucing pun akhirnya menghirup udara bebas dan menikmati sebagai manusia
Indonesia yang merdeka dan mengisi kemerdekaan bangsanya dengan tugas yang
diembannya dengan penuh tanggung jawab dan tentunya dengan semangat juangnya
yang telah teruji di dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sejak tahun 1950 hingga tahun 1983 Pak Kucing bergabung sebagai anggota ABRI
(TNI AD) dengan pangkat terakhir Mayor Infanteri. Di tahun 1950 hingga beberapa tahun
Pak Kucing bertugas di Makasar. Dalam tugasnya ini, salah satu tugas yang diembannya
adalah melakukan pemberantasan atas pemberontakan Kahar Muzakar.
Sebelum pensiun dari tugas terakhirnya sebagai Kabag. W.B. 11 Markas Cabang
Tabanan di tahun 1983, Pak Kucing juga sempat duduk sebagai anggota DPRD
Tabanan selama dua periode. Yakni periode 1967 hingga tahun 1977. Atas perjuangan
dan kiprahnya tersebut, Pak Kucing dianugerahkan berbagai penghargaan. Seperti
Satya Lencana 8 tahun, 16 tahun, 24 tahun dan Satya Lencana Pk.I dan Pk.II. Selain
itu almarhum juga dianugerahkan penghargaan Medali Sewindu Angkatan Perang RI,
Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Pertama dan Kedua, penghargaan Pahlawan pada
tanggal 10 November 1958 dan berbagai penghargaan lainnya.
72 Tematik 4 Tema 5 Pahlawanku

