Page 74 - MODUL KELAS 4 TEMA 4
P. 74

Setiba di atas pohon, mereka meniti kumpulan daun mangga dan menetapkan daun
                  yang tebal, lebar, dan saling berdekatanlah yang paling cocok untuk dibuat sarang. Ini
                  adalah saat yang paling menyenangkan bagi mereka.
                      Terdengar nyanyian bersahut-sahutan. Semut-semut itu bekerja giat dan sukacita.
                  Tetapi tidak semuanya. Sima, seekor semut pemalas, tidak ada dalam barisan. Sima asyik
                  bermain dan tidak menghiraukan ajakan teman-teman untuk membuat sarang.
                  Ketika  para  semut  sibuk  menjalin  daun-daun  menjadi  kuncup  tertutup,  Sima  justru
                  menghampiri dan membujuk mereka untuk bermain.
                      “Hai teman-teman, sibuk amat. Capek ya membuat sarang? Pasti membosankan,
                  lebih baik ikut aku. Di pohon sebelah sana, ada buah yang merah ranum berair manis
                  dan lezat sekali.”
                      Beberapa temannya sempat tergoda. Tetapi Pak Bijak, semut paling tua dan bijaksana,
                  segera mengingatkan mereka.
                      “Aaahhh…, jangan dengarkan Sima. Kalian harus ingat, musim hujan sudah dekat.
                  Jangan bermalas-malasan. Pikirkan hari esok, bersiaplah untuk hujan terbesar jika kalian
                  ingin selamat dan makan berkecukupan!” teriak Pak Bijak.
                      Mendengar hal ini, teman-teman Sima segera sadar dan bekerja kembali.
                      “Hai, Sima. Kau seharusnya juga ikut bersiap-siap, musim hujan akan diawali dengan
                  hujan deras yang turun terus-menerus disertai angin kencang. Jika kau hanya bermain-
                  main dan tidak mau bergotong royong membuat sarang, kau tidak akan memiliki tempat
                  tinggal saat hujan benar-benar datang! Ayo, bekerja!” kata Pak Bijak menasihati Sima.
                      “Ahhh, Pak Bijak cerewet. Musim hujan tidak akan separah itu. Lihat, hari ini cerah
                  sekali. Lebih baik bersenang-senang, mencicipi berbagai buah yang manis. Sayang jika
                  dilewatkan, Pak.”
                      “Dasar pemalas. Terserah kau saja. Tetapi ingat, jika musim hujan datang, kau pasti
                  menyesal tidak membantu kami membuat sarang.” Pak Bijak berkata dengan marah dan
                  meninggalkan Sima yang hanya tertawa-tawa.
                      Keesokan harinya, enam buah sarang yang kokoh telah terbentuk. Ada celah kecil
                  yang  merupakan  pintu  bagi  para  semut  untuk  keluar  masuk  sarang.  Kegiatan  hari
                  ini adalah mengumpulkan persediaan makanan. Setiap kelompok semut ditugaskan
                  mengangkat potongan kecil buah yang bisa dibawanya. Sejak pagi hari mereka sibuk naik
                  turun pohon mangga atau merambat ke pohon sebelahnya untuk membawa makanan
                  dan memasukkannya ke sarang. Saat semua bekerja, Sima terlihat bermalas-malasan
                  di sehelai daun yang melambai perlahan tertiup angin. Ia hanya mengawasi kawan-
                  kawannya bekerja. Ketika terasa lapar, ia mencari buah yang matang lalu memakannya
                  hingga kekenyangan. Jika bosan, ia akan bernyanyi-nyanyi dan kemudian tidur.
                      Teman-teman menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Sima. Seekor semut
                  mengingatkan lagi agar Sima ikut membantu membuat sarang. Ia menakut-nakuti jika Sima
                  tidak ikut bekerja, mereka tidak akan menerima Sima tinggal di sarang ketika hujan datang.
                      Tetapi Sima dengan sombong berkata, hujan tidak membuatnya takut dan ia akan
                  bersembunyi di bawah daun untuk melindungi diri dari hujan.
                      Menjelang sore, semua makanan yang diperlukan telah diangkat ke dalam sarang. Para
                  semut berkumpul dan memasuki sarang masing-masing. Langit bertambah gelap karena
                  mendung tiba-tiba datang. Udara terasa dingin dan angin mulai bertiup kencang.
                  Para semut merapatkan pintu sarang dengan kuat agar angin tidak tembus ke dalam.
                  Sima, yang saat itu sedang tertidur pulas, mendadak bangun dan terkejut karena suara
                  petir yang keras. Darrrr… gelegarrrr…!





                74                           Tematik 4 Tema 4 Berbagai Pekerjaan
   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79