Page 242 - Koleksi Ceritera Bitara
P. 242

Pak Akup menatap beruang dengan pasrah. “Jika kau ingin
                   memakan aku, terserah saja. Tapi biarkan aku menebar benih
                   gandum dulu”. kata Pak Akup.
                       Beruang itu setuju, dan kembali ke hutan untuk berehat.

                       Di saat itu seekor rubah melewati ladang Pak Akup.

                       “Mengapa kamu sangat sedih, Pak Akup?” tanya rubah.
                       Pak Akup terkejut melihat rubah sudah ada di dekatnya. Pak
                   Akup tahu, walau rubah agak ramah, namun dia selalu licik dan
                   bersikap tidak ikhlas dalam hal membantu. Setelah berfikir sejenak,
                   Pak Akup berkata,
                       “Tentu saja aku sedih, Rubah. Beruang sedang menunggu aku di
                   hutan. Setelah aku selesai menebar benih, dia akan langsung
                   memakanku. Siapa yang akan merawat ayam-ayamku kalau aku
                   mati,” kata Pak Akup.
                       Mendengar kata ‘ayam’ rubah semakin senyum ramah.

                       “Tenang saja Pak Akup. Aku akan menyelamatkanmu dari si
                   Beruang. Tapi, balasan apa yang akan kau berikan padaku?”kata
                   rubah.
                       “Aku akan memberikanmu dua ekor ayam,” janji Pak Akup.

                       “Setuju! Sekarang, serahkan beruang itu ke tanganku!” kata
                   rubah sambil segera pergi dari situ.
                   Pak Akup lalu melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba saja, beruang
                   datang dan mendorong Pak Akup hingga terjatuh. Ia lalu siap
                   menerajang Pak Akup. Namun pada saat itu, muncullah rubah yang
                   meraung meniru suara singa. Ia lalu berteriak dari kejauhan,
                       “Pak Akup…aku sedang mencari seekor beruang atau seekor
                   serigala! Apakah kau melihat seekor di antara mereka? Aku sangat
                   lapar!” kata rubah.

                       Beruang sangat ketakutan kerana mengira singa yang datang.
                   Ia bersembunyi di dalam kereta kayu Pak Akup, lalu berbisik
                   memohon, “Katakan kepada singa, kau tidak melihat apapun!”.

                       Pak Akup segera mengatakan hal yang sama. Namun rubah
                   bertanya lagi,

                       “Lalu, apa yang ada di dalam kereta kayumu?
                       “Katakan, itu adalah batang pokok!” bisik beruang lagi
                   memohon.




                   210
   237   238   239   240   241   242   243   244   245   246   247