Page 583 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 583
Dia berlari mengejarnya, mendapatinya setengah jalan menaiki tangga pualam
itu.
'Er -- apakah kau mau pergi ke Hogsmeade bersamaku di Hari Valentine?'
'Oooh, ya!' dia berkata, merona merah padam dan tersenyum kepadanya.
'Baiklah ... well ... kalau begitu itu sudah beres,' kata Harry, dan merasa bahwa
hari itu ternyata tidak akan merugikan sepenuhnya, dia bahkan melambung
ketika menuju perpustakaan untuk menjemput Ron dan Hermione sebelum
pelajaran-pelajaran sore mereka.
Namun, pada pukul enam malam itu, bahkan semangat karena telah berhasil
mengajak Cho Chang pergi tidak bisa meringankan perasaan mengerikan yang
terus menguat bersama setiap langkah yang diambil Harry menuju kantor Snape.
Dia berhenti sejenak di luar pintu ketika dia sampai, berharap dia berada di
hampir semua tempat yang lain, lalu, sambil mengambil napas dalam-dalam, dia
mengetuk pintu dan masuk.
Ruangan penuh bayang-bayang itu dibarisi dengan rak-rak yang berisikan
ratusan toples kaca yang menampung potongan-potongan berlendir binatang-
binatang dan tanaman-tanaman yagn tercelup di dalam berbagai ramuan
berwarna. Di salah satu sudut berdiri lemari penuh bahan ramuan yang pernah
Snape tuduh Harry -- bukan tanpa alasan -- rampok. Namun, perhatian Harry
tertarik kepada meja tulis, di maan sebuah baskom batu dangkal yang diukir
dengan rune-rune dan simbol-simbol tergeletak dalam genangan cahaya lilin.
Harry mengenalinya dengan seketika -- itu Pensieve Dumbledore. Bertanya-
tanya mengapa benda itu ada di sana, dia terlompat ketika suara dingin Snape
datang dari balik bayang-bayang.
'Tutup pintu di belakangmu, Potter.'
Harry melakukan yang disuruhnya, dengan perasaan mengerikan bahwa dia
sedang memenjarakan dirinya sendiri. Ketika dia berpaling kembali, Snape telah
berpindah ke tempat terang dan sedang menunjuk diam-diam ke kursi di
seberang meja tulisnya.
Harry duduk dan begitu pula Snape, mata hitamnya yang dingin terpaku tanpa
berkedip kepada Harry, ketidaksukaan tertanam dalam setiap garis di wajahnya.

