Page 714 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 714
Menakutkan. Bibir Snape gemetaran, wajahnya putih, giginya tampak jelas.
'Pria menawan, ayahmu, bukan begitu?' kata Snape sambil mengguncang Harry
begitu kerasnya sehingga kacamatanya meluncur turun di hidungnya.
'Aku -- tidak --'
Snape melemparkan Harry menjauh dengan segala kekuatannya. Harry jatuh
dengan keras ke lantai ruang bawah tanah itu.
'Kamu tidak akan mengulangi apa yang kau lihat kepada siapapun!' Snape
berteriak.
'Tidak,' kata Harry, sambil bangkit sejauh mungkin dari Snape. 'Tidak, tentu saja
aku --'
'Keluar, keluar, aku tidak mau melihatmu di kantor ini lagi!'
Dan ketika Harry bergegas menuju pintu, setoples kecoak mati meledak di atas
kepalanya. Dia merenggut pintu hingga terbuka dan berlari cepat menyusuri
koridor, hanya berhentik ketika dia telah menempatkan tiga lantai di antara
dirinya dan Snape.
Di sana dia bersandar pada dinidng, terengah-engah, dan mengosok lengannya
yang memar.
Dia tidak berhasrat sama sekali untuk kembali ke Menara Gryffindor begitu
cepat, atau untuk memberitahu Ron dan Hermione apa yang baru dilihatnya. Apa
yang membuat Harry merasa begitu ngeri dan tidak senang bukanlah diteriaki
atau dilempari toples-toples; dia tahu bagaimana rasanya dipermalukan di tengah
lingkaran penonton, tahu persis bagaimana perasaan Snape ketika ayahnya
mengejeknya, dan menilai dari apa yang baru dilihatnya, ayahnya dulu sama
sombongnya seperti yang selalu diberitahu Snape kepadanya.

