Page 733 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 733
'Harry -- tolong!' Hermione memohon dengan lemah.
Tetapi dia telah memutuskan; sambil mengangkat tasnya lebih kokoh ke
bahunya, dia mulai berlari, melewati murid-murid yang sekarang bergegas ke
arah berlawanan untuk melihat tentang apa semua keributan di sayap timur.
Harry mencapai koridor ke kantor Umbridge dan mendapatinya sepi. Sambil
berlari di belakang sebuah baju zirah besar yang ketopongnya berderit berputar
untuk mengamatinya, dia menarik tasnya membuka, meraih pisau Sirius dan
mengenakan Jubah Gaib. Dia lalu berjalan lambat-lambat dan hati-hati keluar
dari balik baju zirah itu dan menyusuri koridor sampai dia mencapai pintu
Umbridge.
Dia memasukkan bilah pisau sihir itu ke dalam celah di sekitar pintu dan
menggerakkannya dengan lembut ke atas dan ke bawah, lalu menariknya. Ada
bunyi klik kecil dan pintu berayun terbuka. Dia menunduk masuk ke dalam
kantor itu, menutup pintunya cepat-cepat di belakangnya dan memandang
berkeliling.
Tak ada yang bergerak kecuali anak-anak kucing mengerikan yang masih
berkeliaran di plakat-plakat di dinding di tas sapu-sapu yang disita.
Harry melepaskan Jubahnya dan, sambil berjalan ke perapian, menemukan apa
yang sedang dicarinya dalam beberapa detik: sebuah kotak kecil yang
mengandung bubuk Floo yang berkilauan.
Dia meringkuk di depan jerji kosong, tangannya gemetaran. Dia belum pernah
melakukan ini sebelumnya, walaupun dia pikir dia tahu bagaimana kerjanya.
Sambil mengulurkan kepalanya ke dalam perapian, dia mengambil sejumput
besar bubuk itu dan menjatuhkannya ke atas batang-batang kayu yang ditumpuk
rapi di bawahnya.
Batang-batang kayu itu meledak seketika menjadi nyala api zamrud.
'Nomor duabelas, Grimmauld Place!' Harry berkata dengan keras dan jelas.
Itu adalah salah satu sensasi paling aneh yang pernah dialaminya. Dia pernah
bepergian dengan bubuk Floo sebelumnya, tentu saja, tetapi saat itu seluruh
tubuhnya yang berputar-putar di dalam nyala api melalui jaringan perapian
penyihir yang terentang di negara itu. Kali ini, lututnya tetap kokoh di atas lantai
dingin kantor Umbridge, dan hanya kepalanya yang menderu cepat di api

