Page 918 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 918
Harry menunggu, tetapi Dumbledore tidak berbicara.
'Saya masih tidak paham.'
'Voldemort mencoba membunuhmu saat kamu masih kecil karena sebuah
ramalan yang dibuat tak lama sebelum kelahiranmu. Dia tahu ramalan itu telah
dibuat, walaupun dia tidak tahu isi selengkapnya. Dia bergerak untuk
membunuhmu saat kamu masih bayi, percaya bahwa dia sedang memenuhi
syarat-syarat ramalan itu. Dia mendapati, demi kerugiannya, bahwa dia salah,
saat kutukan yang dimaksudkan untuk membunuhmu menyerang balik. Dan
demikianlah, sejak dia kembali ke tubuhnya, dan khususnya sejak kelolosanmu
yang luar biasa dari dirinya tahun lalu, dia telah bertekad untuk mendengar
ramalan itu secara keseluruhan. Inilah senjata yang telah dicarinya begitu tekun
sejak kembalinya dia: pengetahuan tentang cara menghancurkanmu.'
Matahari telah terbit sepenuhnya sekarang: kantor Dumbledore bermandikan
sinarnya. Lemari kaca tempat diletakkannya pedang Godric Gryffindor
berpendar putih dan buram, pecahan-pecahan instrumen yagn telah Harry lempar
ke lantai berkilauan seperti titik hujan, bayi Fawkes membuat bunyi ceguk halus
di sarang abunya.
'Ramalan itu pecah,' Harry berkata dengan hampa. 'Aku sedang menarik Neville
menaiki bangku-bangku di - ruangan tempat atap melengkung itu, dan aku
merobek jubahnya dan ramalan itu jatuh ...'
'Benda yang pecah itu hanyalah catatan ramalan yang disimpan oleh Departemen
Misteri. Tetapi ramalan itu dibuat untuk seseorang, dan orang itu memiliki cara
mengingatnya kembali dengan sempurna.'
'Siapa yang mendengarnya?' tanya Harry, walaupun dia mengira dia sudah tahu
jawabannya.
'Aku,' kata Dumbledore. 'Di suatu malam yang dingin dan basah enam belas
tahun yang lalu, di sebuah ruangan di atas bar di penginapan Hog's Head. Aku
pergi ke sana untuk menemui seorang pelamar untuk jabatan guru Ramalan,
walaupun melawan kehendakku membiarkan mata pelajaran Ramalan diteruskan
sama sekali. Namun, si pelamar merupakan cucu buyut dari seorang Penglihat
yang sangat terkenal dan sangat berbakat dan kukira merupakan kesopanan biasa
untuk menemuinya. Aku kecewa. Kelihatannya bagiku dia sendiri tidak punya
sedikitpun karunia itu. Aku memberitahunya, dengan sopan kuharap, bahwa
kukira dia tidak akan cocok untuk jabatan itu. Aku berpaling untuk pergi.'

