Page 16 - Edisi 146 November 2016 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 16
Warung Pecel Bu JUANG
Tabungan Usaha,
Modal Warung untuk Terus Berkembang
SESUAI dengan namanya ribu, beli sedikit juga boleh pak perbaiki dulu mulai dari tendanya kasihan anak – anak sudak sejak
“Juang“ Ibu paruh baya ini bersama 250 gram”. ”Berarti kalau ada sampai dengan rombongnya, kira kecil tidak tau orang tuanya, ayah
suami bekerja keras demi cucunya pesanan ibuk sanggup menerima? kira untuk perbaiki rombong sama tidak jelas kabarnya, ibu sudah
untuk bertahan hidup dengan Kami kembali bertanya, ”Insya tenda berapa biaya yang dibutuhkan meninggal. Alhamdulillah saat
berjualan Nasi Pecel dan Nasi Allah sanggup pak tapi warung buk. karena saya sudah dapat LAZIS hadir untuk membina
Rawon, semenjak 2 tahun lalu nya saya tutup karena keterbatasan informasi dari tukang tenda dan sekaligus membimbing kami, tidak
setelah Novan dan Kakaknya tenaga, karena di sini hanya saya rombong sekitar 5 juta pak yang putus asa di untuk terus berusaha
ditinggal ibunya meninggal karena sama bapak saja yang mengelola”. di butuhkan, yah itu pun kalau ada bekerja keras dan pastinya ba-
sakit kangker otak, dia tinggal ibu Bu Juang menjelaskan. ”Sekarang mau pinjami modal pak karena gai mana hasil kami pasrahkan
meninggal sejak umur satu tahun kalau setiap harinya sampai berapa jaman ini sulit cari pinjaman modal kepada Allah swt. ”Semoga semua
sedangkan kakaknya saat itu porsi buk? ”Yaah Alhamdulillah harus ini itu dulu baru cair belum donatur dan dermawan LAZIS
berumur dua tahun, mereka sudah memang rejeki dari Allah, bisa lagi nanti angsurannya dan diberikan kesehatan seluruh
tidak punya ibu. Sejak itulah dia sampai 20 porsi’an itu campur bunganya waah bisa – bisa saya keluarganya dan di jamin oleh
harus mengasuh 3 cucunya yang pak, maksudnya nasi pecel sama gak bisa jualan pak karena terhimpit Allah hidupnya karena telah peduli
di tinggal meninggal ibunya se- nasi rawon, kalau di total sekita angsuran bank, sambil berkata ia dan membantu orang – orang yang
men tara ayahnya dengan keter- Rp 150.000 s/d 200.000,- perhari pun tersenyum malu kepada kami. kesusahan. Begitu pula kepada
batasan penghasilannya bekerja pak”. ”Kalau untuk sewa tempat Akhirnya kami pun mencoba lembaga LAZIS Sabilillah yang
sebagai sopir taksi setoran yang bagaimana buk?”. ”Alhamdulillah menawarkan bantuan modal tetapi selalu memotivasi keluarga kami,
tidak seberapa hasilnya yang untuk sewa tempat tidak ada karena berupa tabungan usaha, yang khususnya bantuan biaya pen-
sampai sekarang hampir tidak ini sebenarnya jalan yang tidak mana bentuknya seperti modal didikan cucu kami, dan bimbingan
pernah mengurusi anak – anaknya dilalui oleh orang (dipinggiran) pinjaman, namun pada prosesnya ibadah yang jelas kami tidak boleh
bahkan kabar terakhir sudah hanya saya jaga betul ke ber- setiap bulan penerima bantuan meninggalkan sholat dalam ke-
menikah lagi. sihannya, setelah berjualan setiap diwajibkan untuk menabung. Kami adaan susah maupun dalam kondisi
Siang itu lembaga berkesempatan hari mesti kami bersihkan”. ”Selama melanjutkan dialog dengan bu apapun. Sekaligus kami sekeluarga
berkunjung di warteg milik ibu ini apa kendala-kendala yang sering Juang ”Seandainya kami bantu mohon do’a restu Insya Allah jika
Juang, dengan suami yang muncul”. ”Wah kalau kendala dalam permodalan tapi dalam Allah berkehendak saya ingin
Hafidzul Qur’an Semakin Membumi Fatih Seferagic Hadir Di Sabilillah melayani seseorang pelanggan banyak sekali pak mulai dari bentuk modal tabungan usaha membuka semacam restaurant
yang membeli nasi pecel buatannya permodalan sampai dengan fasilitas bagaimana buk apa sanggup untuk atau depot “ pecel Bu Juang“, ini
dan salah seorang karyawan kantor berjualan sekaligus tempat yang rutin menabung. Beliau menjawab cita – cita kami sejak dulu.
sekitar warung yang juga sedang kurang memadai apa lagi sekarang “Insya Allah pak“ dengan mimik Diakhir kunjungan kami memesan
memesan nasi rawon, ketika itu musim penghujan pak, dagangan sangat yakin. Berapa ibu sanggup 3 porsi nasi pecel untuk kami
kami spontan kami bertanya “Kalau jadi sepi karena tempat yang kecil menyisihkan untuk tabungan setiap nikmati bersama, dan memang
nasi pecelnya 1 porsi di jual berapa dan kerap terjadi kebocoran saat bulannya, saya usahakan sekitar rasanya pun tidak kalah dengan
Bu?” Jawab bu Juang ”7 ribu pak hujan, belum lagi kalau sungai di Rp. 250.000 perbulan saya sanggup masakan pecel – pecel di rumah
lauknya telor sama mendol, Kalau sebelah membludak pasti banjir pak”. Sambil tersenyum malu. Kami makan. Sekarang bu Juang juga
nasi 10 ribu pak lauknya tempe dan kalau sampai banjir ya pasti lanjutkan bertanya kepada Bu banyak menerima order bumbu
aja sama krupuk. Lalu kami gak bisa jualan pak”. Bu Juang Juang, ”Lalu apa harapan ibu kacang (bumbu pecel) untuk di
bertanya lagi “Seandainya kami menjelaskan dengan bersemangat. setelah semua bisa tercapai..?” pasarkan di warung – warung
pesan untuk bumbu pecel saja ”Sementara ini yang urgen harus ”Saya akan mendidik cucu saya kelontong dan toko – toko yang
apa bisa bu..??” ”Bisa pak untuk di benahi apanya dulu ya buk”. ini sampai menjadi orang yang menjual makanan has Malang.
bumbu pecel aja per kilonya 50 ”Kalau bisa tempatnya pak di sukses dunia & akhirat karena (*Red)
16 Majalah Komunitas Sabilillah
Edisi 146 / November 2016 / Thn: 07

