Page 15 - Edisi 122 November 2014 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 15
Psikologi Parenting Diasuh oleh: Muhammad Mahpur
Dosen Psikologi UIN Maliki Malang
Ruang Publik Untuk Anak
PADA beberapa artikel lalu, kes- Dalam dimensi sosial dan budaya pem- mental anak. Ruang publik ditempatkan
eimbangan pengasuhan mengutamakan bangunan manusia, perlu memperhatikan sebagai arena pembelajaran komunitas
sudut pandang kepentingan anak dari- apresiasi ruang sosial dan budaya dalam secara natural, khususnya untuk anak-
pada menggunakan kepentingan orang pembangunan infrastruktur masyarakat anak. Keterlibatan orang dewasa juga
tua semata secara searah. Sekarang, untuk mewadahi interaksi dan ekspresi dibutuhkan untuk memaksimalkan fungsi
kepentingan yang dimaksud terfokus ke budaya di luar rumah. Sebelum semua ruang publik agar bermanfaat positif bagi
kebutuhan ruang publik untuk anak, teru- habis oleh ambisi untung yang berpusat perkembangan mental anak. Keberadaan-
tama pada kehidupan masyarakat urban pada pandangan dunia orang dewasa, nya menjadi penting karena anak berkem-
(perkotaan). Semakin padat penduduk pembangunan infrastruktur ruang publik bang secara sosial dengan ketersediaan
yang diikuti tingginya kebutuhan tempat anak adalah wujud rasa peduli terhadap lingkungan sosial dan arsitektur tempat
tinggal, pengembangan perumahan dan
ruang publik, khususnya ruang publik
untuk sosialisasi anak, perlahan pun mulai
diabaikan. Anak kesulitan mendapatkan
ruang berkumpul, bermain, dan bersosia-
lisasi dengan sebayanya sebagai media
tumbuh kembang.
Keterbatasan ini juga semakin men-
garahkan anak lebih banyak berada di
rumah, menonton televisi, dan berte-
man dengan gadget. Ruang gerak anak
berkurang, ketrampilan relasi sosial
tergantikan oleh gadget yang cenderung
individualistik. Di ruang publik, anak-
anak memiliki kesempatan bergerak se-
hingga membantu pembakaran kalori dan
gerak tubuh menyehatkan anak. Interaksi perkembangan kesehatan mental anak. tinggal yang ramah pada anak.
sosial di ruang publik melalui kegiatan Terutama kesehatan fisik dan sosial anak. Contoh bagus adalah pembangunan
bermain dengan sebayanya menjadi ruang Ruang publik dapat dijadikan sebagai taman keluarga di Merbabu Family Park
sosialisasi sehingga anak memiliki ruang media melatih perkembangan budaya di Jalan Merbabu, dan Taman Singha
pembelajaran sosial, latihan mengelola anak. Mereka latihan berkomunikasi, Merjosari kota Malang. Penyediaan ruang
hubungan dengan orang lain, dan melatih bermain bersama, bahkan anak-anak bisa publik tersebut menjadi salah satu pers-
kepercayaan diri anak untuk tampil di diajak berkarya untuk memanfaatkan pektif baru yang perlu diperluas hingga
muka umum. ruang publik ini secara sehat. Ruang pub- tingkat kelurahan (RT/RW), khusus
Ruang publik anak dapat dijadikan seb- lik anak dapat dijadikan sebagai latihan untuk anak-anak. Ruang publik anak
agai tempat yang menyeimbangkan arena menari, menyanyi dan kegembiraan lain dapat diadakan secara sukarela dengan
tumbuh kembang di dalam rumah dan di yang produktif. Orang dewasa juga dapat melibatkan partisipasi masyarakat. Para
luar rumah. Ketersediaan ruang publik menularkan ketrampilan sosial dan bu- donatur yang peduli anak, pemanfaatan
bagi anak menjadi penting diikutsertakan daya ke anak-anak dengan cara mengajak dana hibah, sodaqoh, dan zakat pun dapat
dalam pembangunan infrastruktur di bermain bersama, mengajari menyanyi, berpartisipasi demi tumbuh kembang
tingkat RW atau bahkan RT. Ia menjamin menari, menggambar, merawat pohon anak dengan lingkungan yang sehat. Pada
kelengkapan dalam memberikan fasilitas dan berbagai kegiatan interaktif yang akhirnya, penyediaan ruang publik untuk
publik bagi anak-anak ditengah-tengah menunjang warisan-warisan nilai sosial anak membutuhkan kebijakan yang peduli
mengikisnya perhatian kita pada kebu- dan budaya masyarakat. Ruang publik pada hak anak. Ia menjadi bagian dari
tuhan anak karena pembangunan, sep- anak juga dapat dijadikan sebagai tempat indikator pembangunan berkelanjutan
erti perumahan, lebih menekankan pada penyimpanan permainan tradisional. karena anak akan berkembang sebagai
konsep hunian dengan prinsip efisiensi, Ruang publik menjadi tempat per- penerus generasi, maka kita seharusnya
minimalis, dan mengarah kedalam untuk tukaran sosial di antara generasi dan membantu tumbuh kembang mentalnya
kebutuhan berteduh. dapat menguntungkan perkembangan secara sehat. (red)
Majalah Komunitas Sabilillah
Edisi 122 / November 2014 / Thn: 07 15

