Page 25 - TULIS AKSI LEWAT LITERASI
P. 25
Tegakkan Integritas Dengan Bicara Proses, Bukan Melulu Soal Sukses
Ovina Putri
Sepulang dari ujian, saya ingat apa yang selalu ditanyakan oleh ibu.
Yaitu pertanyaan mengenai nilai yang saya dapat. Ketika saya jawab
dapat nilai tinggi, ibu senang. Padahal, yang tidak ibu ketahui adalah, nilai
tersebut saya dapatkan dari kerja sama dengan teman. Atau bisa jadi itu
bukan kerja sama, melainkan kegiatan merugikan teman. Karena waktu
yang seharusnya mereka gunakan untuk mengerjakan, malah saya potong
untuk menanyakan jawaban.
Alih-alih menanyakan „bagaimana‟ mendapatkan nilai tersebut, kita
sepertinya memang lebih peduli pada „berapa banyak‟ nilai yang didapat.
Kita – atau mungkin hanya saya, sudah menanamkan stereotip sejak kecil,
bahwa nilai ujian bisa menggambarkan seberapa tinggi atau seberapa
pintarnya kita, tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya. Stereotip
inilah yang bisa terbawa hingga dewasa. Bermula dari keinginan kecil untuk
mendapatkan lebih, lalu merasa mendapat keuntungan dari tindakan
tersebut, yang tanpa kita sadari kita sedang melakukan hal yang tidak
sepatutnya serta merugikan orang lain. Contoh nyatanya adalah korupsi.
Bicara soal korupsi, tidak perlu kita lihat terlalu jauh. Semua tindak
korupsi yang sudah besar itu, pasti punya awal mula yang kecil. Bermula
dari hal kecil, yang kemudian ketagihan, lalu lanjut menjadi budaya dan
melekat pada jati diri. Lalu bagaimana peran warga Negara biasa seperti
kita? Apakah hanya KPK, polri, dan aparat pemerintah saja yang bisa
memberantas korupsi? Jika kita berpikiran demikian, maka hentikan
pemikiran kolot tersebut mulai dari sekarang. Karena kita juga bisa
berpartisipasi dalam mencegah terjadinya korupsi, yaitu dengan bertindak
jujur dalam skala sekecil apapun. Kuncinya hanya satu: lakukan! Jangan
hanya bicara.
Mari kita mulai dengan datang tepat waktu agar tidak korupsi waktu,
mari menuliskan sumber ketika mengutip agar tidak disebut plagiat, mari
bersabar untuk antre menunggu giliran, mari menjadi pribadi yang percaya
diri ketika menghadapi ujian, dan juga mari kita mulai untuk peduli pada
proses tidak hanya menuntut untuk sukes. Sikap tersebut tidak hanya
menimbulkan dampak positif saja, melainkan juga menjadi teladan bagi
anak-anak maupun adik-adik kita.

