Page 262 - BMP Pendidikan Agama Kristen
P. 262

248



                     Namun,  tidak  sedikit  juga  negara  yang  melibatkan  agama  dalam
                urusan  pemerintahan  di  negaranya.  Bahkan  negara-negara  tersebut
                menjadikan  agama  tertentu  sebagai  konstitusi  atau  hukum  tertinggi  di
                negaranya. Negara-negara seperti Saudi Arabia, Kuwait, Suriah, Yordania,
                Emirat Arab, Maroko, Brunei Darussalam, Republik Islam Iran dan Republik
                Islam  Pakistan  menjadikan  agama  Islam  sebagai  dasar  hukum  dalam
                kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
                     Di  samping  itu,  ada  sejumlah  negara  yang  tidak  secara  eksplisit
                menyebutkan  dirinya  sebagai  negara  agama  tertentu,  namun  mengklaim
                agama  tertentu  sebagai  agama  resmi  negara.  Fungsi  agama  yang  disebut

                sebagai agama resmi negara ini lebih kepada kepentingan seremonial karena
                hukum  dan  perundang-undangan  yang  berlaku  di  negara  ini  tidak
                seluruhnya mendasarkan diri kepada apa yang tercantum di dalam kitab
                suci  agama  tersebut.  Proses  pembentukan  hukum  dan  perundang-
                undangannya  tetap  melalui  proses  yang  mengakomodir  berbagai
                kepentingan  yang  ada  di  dalam  masyarakat.  Namun  demikian,  semua
                produk hukum di negara itu diupayakan tidak bertentangan dengan prinsip
                                                        20
                utama agama resmi di negara tersebut.
                     Malaysia  dan  Indonesia  adalah  contoh  dari  negara  yang  tidak

                mendasarkan  diri  pada  agama  tertentu  dalam  kehidupan  berbangsa  dan
                bernegaranya. Namun keduanya mengakui adanya agama-agama tertentu
                yang menjadi agama resmi dari negara tersebut. Konstitusi Malaysia pada
                pasal 3 ayat 1 secara tegas menyebutkan bahwa, “Agama Islam adalah agama
                resmi bagi persekutuan; tetapi agama-agama lain boleh diamalkan dengan
                aman  dan  damai  di  mana-mana  bahagian  persekutuan.”  Dengan  UU  ini
                dapat  disimpulkan  bahwa  meski  agama  Islam  menjadi  agama  resmi  di
                Malaysia,  namun  pemerintah  Malaysia  tetap  menjamin  kebebasan
                beribadah para pemeluk agama lainnya.
                     Hal yang sama juga terjadi di Indonesia di mana dalam UUD 1945 yang

                telah diamandemen, pada pasal 29 ayat 1 berbunyi, “Negara berdasar atas
                Ketuhanan  yang  Maha  Esa,”  dan  ayat  2  berbunyi,  “Negara  menjamin
                kemerdekaan  tiap-tiap  penduduk  untuk  memeluk  agamanya  masing-



                20   Nasaruddin  Umar,  “Agama  Negara,  Negara  Agama  dan  Negara  Sekuler  (2),”  [daring]
                diakses   dari   https://www.rmol.id/read/2017/08/13/302847/Agama-Negara,-Negara-
                Agama,-&-Negara-Sekuler-(2)- diakses pada tanggal 20 Januari 2021 (2017).
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267