Page 264 - BMP Pendidikan Agama Kristen
P. 264

250



                kekuatan besar yang menentukan bentuk pemerintahan negara Indonesia
                setelah kemerdekaannya, yaitu kelompok nasionalis-sekuler dan kelompok
                nasionalis-Islam. Kompromi ini menjadi landasan bagi kehidupan bersama
                yang  diharapkan  dapat  merangkul  semua  kelompok  dan  golongan
                masyarakat  di  Indonesia.  Sila  pertama  Pancasila  yang  disepakati  ini
                sekaligus  juga  menunjukkan  pengakuan  dan  penghormatan  terhadap
                                             23
                seluruh agama di Indonesia.
                     Pengakuan dan penghormatan terhadap agama yang  beragam serta
                para  pemeluk  agamanya  di  Indonesia  juga  tertuang  di  dalam  motto
                “Bhinneka  Tunggal  Ika”  yang  artinya  “berbeda-beda  namun  satu  juga.”

                Selain itu, sila ketiga Pancasila yang berbunyi “Persatuan Indonesia,” juga
                menegaskan tentang kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat majemuk
                dan  diwarnai  oleh  keragaman  suku  bangsa,  agama  dan  budaya.  Itu
                sebabnya, prinsip persatuan ini sangat dibutuhkan di Indonesia.
                     Sila pertama Pancasila dan pembukaan UUD 1945 alinea ketiga yang
                menyebutkan  bahwa  kemerdekaan  Indonesia  merupakan  berkat  rahmat
                Allah yang Maha Kuasa, menunjukkan bahwa negara Indonesia bukanlah
                negara agama ataupun negara yang berlandaskan pada satu agama tertentu.
                Namun  demikian,  pemerintah  dan  rakyat  Indonesia  tetap  mengakui

                keberadaan  dan  karya  Tuhan  di  dalam  perkembangan  negara  Indonesia
                mulai  sejak  merdeka  hingga  saat  ini.  Hal  ini  menunjukkan  sikap
                nasionalisme  sekaligus  religius  dari  seluruh  rakyat  Indonesia  yang
                menegaskan  posisi  agama  di  dalam  hidup  berbangsa,  bernegara  dan
                bermasyarakat.
                     Meskipun  Indonesia  bukan  negara  agama,  namun  agama  tetap
                mewarnai sikap hidup seluruh warga negara Indonesia. Di satu sisi, hal ini
                merupakan  keuntungan  karena  semua  agama  mengajarkan  nilai-nilai
                kebaikan dan kebenaran yang melandasi perilaku masyarakat Indonesia di
                dalam interaksi mereka. Nilai-nilai positif ini menjadi perekat yang kuat dari

                seluruh  elemen  negara  ini.  Di  sisi  lain,  keragaman  agama  yang  ada  di
                Indonesia perlu dikelola dengan benar untuk menghindari perpecahan dan
                konflik.



                23  Trisno S. Sutanto. “Pancasila dan Persoalan Kebebasan Beragama dan/atau Berkeyakinan:
                Membaca Ulang Hubungan Agama  dengan Negara  Indonesia”  dalam Politik Kebinekaan.
                (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020), 242-247.
   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269