Page 226 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 226
kabin Hagrid di samping Hutan Terlarang, tetapi tempat itu dalam kegelapan
total. Namun, Kastil Hogwarts semakin mendekat: kumpulan menara-menara
kecil yang menjulang tinggi, hitam pekat terhadap langit yang gelap, di sana-sini
jendela berkobar-kobar seterang nyala api di atas mereka.
Kereta-kereta itu bergemeringing terhenti di dekat undakan batu yang menuju ke
pintu depan kayu ek dan Harry keluar kereta terlebih dahulu. Dia berpaling lagi
untuk mencari jendela yang terang di dekat Hutan, tapi jelas tidak ada tanda
kehidupan dari kabin Hagrid. Di luar kehendaknya, karena dia setengah berharap
mereka sudah menghilang, dia memalingkan matanya ke makhluk-makhluk aneh
seperti kerangka yang sedang berdiri dengan tenang dalam udara malam yang
dingin, mata putih kosong mereka bersinar-sinar.
Harry sudah pernah sekali mendapat pengalaman melihat sesuatu yang tidak bisa
dilihat Ron, tetapi itu adalah bayangan di cermin, sesuatu yang jauh kurang
berarti daripada seratus makhluk buas yang tampak sangat padat yang cukup
kuat untuk menarik armada kereta. Kalau Luna bisa dipercaya, makhluk-
makhluk itu sudah sejak dulu ada di sana tetapi tidak tampak. Kalau begitu,
kenapa Harry tiba-tiba bisa melihat mereka, dan kenapa Ron tidak?
'Kau ikut atau tidak?' kata Ron di sampingnya.
'Oh ... yeah,' kata Harry cepat-cepat dan mereka bergabung dengan kerumunan
yang bergegas menaiki undakan batu ke dalam kastil.
Aula Depan diterangi oleh obor-obor dan bergema dengan langkah-langkah kaki
ketika para murid menyeberangi lantai batu menuju pintu ganda di sebelah
kanan, yang menuju ke Aula Besar dan pesta awal semester.
Keempat meja panjang asrama di Aula Besar mulai terisi di bawah langit-langit
hitam tak berbintang, yang persis seperti langit yang bisa mereka lihat sekilas
melalui jendela-jendela tinggi. Lilin-lilin mengapung di udara di atas meja-meja
itu, menerangi hantu-hantu keperakan yang bertebaran di Aula dan wajah-wajah
para murid yang sedang berbicara dengan penuh semangat, saling bertukar kabar
musim panas, meneriakkan salam kepada teman-teman dari asrama lain, saling
mengamati potongan rambut dan jubah baru satu sama lain. Sekali lagi, Harry
memperhatikan orang-orang mendekatkan kepala untuk berbisik ketika dia
lewat; dia menggertakkan gigi dan mencoba bertingkah seolah-olah dia tidak
tahu atau peduli.

