Page 889 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 889
menatap Harry dengan mata merah tak berbelas kasihan itu. 'Tidak, Bella, dia
tidak berbohong ... aku melihat kebenaran memandangku dari dalam pikirannya
yang tak berharga ... berbulan-bulan persiapan, berbulan-bulan usaha ... dan para
Pelahap Mautku telah membiarkan Harry Potter menghalangiku lagi ...'
'Tuan, aku sangat menyesal, aku tidak tahu, aku sedang bertarung dengan Black
si Animagus!' Bellatrixi terisak-isak, sambil menjatuhkan dirinya sendiri ke kaki
Voldemort selagi dia berjalan lambat-lambat mendekat. 'Tuan, Anda harus tahu -
-'
'Diamlah, Bella,' kata Voldemort dengan berbahaya. 'Aku akan berurusan
denganmu sebentar lagi. Apakah menurutmu aku memasuki Kementerian Sihir
untuk mendengar kau tersedu-sedan meminta maaf?'
'Tapi Tuan -- dia ada di sini -- dia di bawah --'
Voldemort tidak mengacuhkan.
'Aku tak punya hal lain untuk diucapkan kepadamu, Potter,' dia berkata pelah.
'Kau sudah membuatku kesal terlalu sering, sudah terlalu lama. AVADA
KEDAVRA!'
Harry bahkan tidak membuka mulutnya untuk melawan; pikirannya kosong,
tongkatnya menunjuk ke lantai tanpa guna.
Tetapi patung keemasan penyihir pria tak berkepala di air mancur itu telah
menjadi hidup, melompat dari pedestalnya untuk mendarat dengan bunyi keras
di lantai antara Harry dan Voldemort. Mantera itu hanya sepintas mengenai
dadanya selagi patung itu merentangkan lengannya untuk melindungi Harry.
'Apa --?' teriak Voldemort sambil memandang berkeliling. Dan kemudian dia
berbisik, 'Dumbledore!'
Harry memandang ke belakangnya, jantungnya berdebar keras. Dumbledore
sedang berdiri di depan gerbang-gerbang keemasan itu.
Voldemort mengangkat tongkatnya dan pancaran cahaya hijau lain mengarah ke
Dumbledore, yang berpaling dan hilang bersama kibasan jubahnya. Detik
berikutnya, dia sudah muncul kembali di belakang Voldemort dan melambaikan
tongkatnya ke sisa-sisa air mancur itu. Patung-patung lain menjadi hidup. Patung
penyihir wanita lari ke Bellatrix, yang menjerit dan mengirim mantera-mantera
yang memberkas tanpa guna ke dadanya, sebelum patung itu menukik ke

