Page 77 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 77

KEPING 6


             “Dialah meteor di langit setiap orang. Penuh kesan, tapi
           dengan cepat melesat hilang.”

             “Tidak terbendung institusi apa-apa, organisasi mana pun,
           bukan properti siapa-siapa.”
             “Pria atau—”
             “Wanita?”
             Keduanya terdiam sejenak.

             “Apa kata dongengmu itu?” tanya Reuben.
             “Bintang Jatuh merebut sang Putri. Berarti, seharusnya
           dia memang laki-laki, tapi kalau kita mengikuti dongeng itu
           seratus persen, semuanya bakal gampang ditebak. Lagi pula,
           itu tidak sejalan dengan konflik Kesatria. Ingat, di bifurkasi
           masa kecilnya, ia justru ingin mengubah kisah itu.”
             “Iya, dengan tidak membiarkan dirinya dibodohi si
           hidung belang Bintang Jatuh, kan? Mengambil sang Putri

           dan hidup bahagia selamanya. Beres!”
             “Reuben, jangan bikin aku kecewa. Karya ini nggak boleh
           sesederhana itu,” balas Dimas. “Apa pola yang mun cul dengan
           rebut-merebut begitu? Balas dendam. Aku justru ingin me-
           ninggalkan konsep itu. Mata dibayar mata, api dibalas api,

           prinsip semacam itu bibit peperangan. Sama kunonya dengan
           pandangan para reduksionismu itu.”
             Mendengar kata kunci itu, Reuben langsung diam.
             “Mari kita sajikan sebuah evolusi emosional. Refleks
           emosi yang bergulir ke arah kedewasaan sejati, dan bukan
           balas dendam. Nyaris altruistis. Apa yang ia kira segalanya



           66
   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82