Page 82 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 82

Bintang Jatuh

              Namun, selalu ada perbedaan menonjol setiap kali pera-
           gawati satu itu muncul. Satu perbedaan yang sungguh tidak

           sederhana. Pandangan matanya. Tidak hanya tajam, tapi juga
           seketika membelah. Yang lain ibarat pajangan sederet pisau
           yang berkilau, tapi tanpa aksi. Yang satu ini langsung meng-
           hunus. Ia tidak mencari ruang kosong. Ia mencari mata-mata

           lain. Sorot-sorot lain. Menelanjangi semuanya. Kelihatannya,
           ia pun lebih menikmati hal itu daripada berjalannya sendiri.
              Putaran demi putaran. Ia menjadi yang paling ditung gu-
           tunggu. Semua tahu itu. Semua ingin menyerahkan diri
           un tuk dipenggal mata itu.
              Putaran terakhir. Ia menghilang di balik panggung.
              “Diva!”

              Gadis itu menoleh.
              “Frans minta kamu yang mengiringi dia ke depan.” Adi,
           stage manager, memberitahunya.
              “Kenapa dengan Nia?”

              “Frans berubah pikiran.”
              “Detik terakhir?”
              “Detik terakhir,” Adi mengangguk. Hal yang lumrah ba-
           ginya. Siapa pun tahu, tak pernah ada yang terlalu suka de-
           ngan Diva. Gadis itu dijuluki “si Pahit”. Tidak pernah ter lalu
           ramah, tidak juga selalu judes, tapi ia dingin. Di ngin yang
           me ngerikan.  Belum  lagi  lidahnya  yang  sadis,  tanpa  te deng

           aling-aling. Namun, ia juga seperti magnet  yang  akhir nya
           mem balikkan semua kenyataan untuk ber pihak kepadanya.


                                                                  71
   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87