Page 79 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 79
KEPING 6
“Sejenisnya. Tapi, satu hal yang penting. Dia harus ada di
posisi yang enak untuk menunjuk sana sini. Mengerti mak-
sudku?”
Dimas menggeleng.
“Seorang politikus akan selalu berpihak ketika ia ngo-
mong politik. Seorang akademisi atau ilmuwan akan selalu
berpijak pada bidang pengetahuannya saja. Seorang peda gang
akan selalu khawatir soal untung rugi. Seorang aga mawan
akan bicara soal klaim kebenarannya. Kita butuh pengamat
murni, tanpa pretensi apa-apa. Tapi, dia juga bukan seorang
suci, apalagi disucikan, karena orang-orang seperti itu biasa-
nya malah tidak dibiarkan menikmati hi dup.”
“Seorang pelacur.”
“Apa?” Reuben sampai bangkit dari kursinya.
“Dengar dulu. Ketika seseorang mencapai level kemer-
dekaan berpikir yang sedemikian tinggi, dia tidak bakalan
rela pikirannya diperjualbelikan. Satu-satunya yang layak
didagangkan jadi cuma fisiknya. Seorang pelacur juga bisa
jadi wirausahawati, tidak terikat siapa-siapa. Katakan lah,
saking hebatnya, dia tidak perlu lagi mucikari.”
“Tapi, itu paradoks! Kalau dia bisa mikir, bagaimana
mung kin dia mau merendahkan harkatnya untuk jadi pe-
lacur?”
“Itulah dia manusia paradoksmu!” seru Dimas penuh ke-
me nangan. “Kamu nggak bisa melihatnya dengan cara pan-
dang orang kebanyakan. Jangan memilah dengan diko tomi
68

