Page 228 - In a Blue Moon
P. 228
Sophie mengerjap. Untuk sejenak ia lupa bernapas. Lalu
sesuatu mulai mengentak-entak di balik dadanya.
Lucas menaiki satu anak tangga lagi, membuatnya kini
berdiri tepat di hadapan Sophie. Kedua tangannya dijejalkan
ke dalam saku jaket. Ada seberkas kegugupan yang ber-
kelebat di matanya yang biru gelap, namun ia berdiri dengan
yakin di hadapan Sophie. ”Terlepas dari keinginan kakekku
untuk menjodohkan kita, aku sungguh menyukaimu,” lanjut-
nya, ”dan aku ingin mengenalmu lebih baik.”
”Oh?” Hanya itu yang bisa dikatakan Sophie. Jantungnya
masih berdebar-debar dan otaknya masih belum bisa me-
mikirkan kalimat yang lebih panjang.
”Jadi bagaimana denganmu?” tanya Lucas sambil terse-
nyum. ”Apakah ada kemungkinan kau akan menyukaiku dan
226
ingin mengenalku lebih baik?”
”Aku... Eh...” Melihat wajah Lucas dari jarak sedekat ini
membuat debar jantung Sophie semakin keras. Apa-apaan
ini? Apa yang terjadi padanya? Demi Tuhan...
Lucas tertawa lirih dan senyumnya melebar. ”Kurasa aku
berhasil membuatmu tidak bisa berkata-kata. Baiklah. Aku
akan memberimu waktu untuk memikirkan jawabannya.
Nah, jangan memukulku, oke?”
Mata Sophie melebar kaget ketika Lucas menunduk, men-
dekatkan wajahnya ke wajah Sophie. Detik berikutnya ia
merasakan bibir Lucas menempel di pipinya. Sophie pun
otomatis menahan napas.
Sekejap mata kemudian Lucas sudah menegakkan tubuh
kembali. ”Selamat malam.”
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 226 3/30/2015 10:43:25 AM

