Page 229 - In a Blue Moon
P. 229

Wajah	 Sophie	 memanas	 dengan	 cepat.	 ”Y-ya...	 Selamat
                malam,”	gumamnya	lirih.	Setelah	itu	ia	cepat-cepat	berbalik,
                membuka	pintu	dan	masuk	tanpa	menoleh	ke	belakang	lagi.
                  Wajahnya	masih	terasa	panas	bahkan	setelah	ia	masuk	ke

                apartemennya	 sendiri.	 Ia	 menjatuhkan	 tasnya	 ke	 lantai	 dan
                menangkupkan	kedua	tangannya	ke	pipi.	Benar,	pipinya	me-
                mang	 panas.	 Ia	 menggerakkan	 tangan	 kanannya	 ke	 dada.
                Jantungnya	juga	masih	berdebar	keras.
                  Apartemennya	remang-remang,	hanya	diterangi	sedikit	ca-
                haya	dari	lampu	jalan	yang	masuk	dari	jendela	ruang	duduk.

                Tanpa	 menyalakan	 lampu,	 Sophie	 berjalan	 ke	 arah	 jendela
                dan	 memandang	 turun	 ke	 jalan.	 Mobil	 Lucas	 sudah	 tidak
                terlihat.	Sophie	mendesah.
                  Tiba-tiba	terdengar	bunyi	berdenting.	Sophie	menoleh	dan	  227

                bergegas	berjalan	ke	arah	tasnya	yang	teronggok	di	lantai	di
                dekat	pintu	masuk.	Ia	memungut	tasnya	dan	mengeluarkan
                ponsel.	Ada	pesan	masuk.	Dari	Lucas	Ford.
                  Kurasa aku sudah memberimu cukup waktu untuk berpikir.
                Jadi, apa jawabanmu, Sophie Wilson?
                  Sophie	 tersenyum	 dan	 membalas,	 Jawaban  untuk  perta­

                nyaan apa?
                  Setelah	mengirimkan	pesan	itu,	Sophie	menyalakan	lampu,
                pemanas	 ruangan,	 lalu	 berjalan	 ke	 kamar	 tidurnya	 sambil
                bersenandung	pelan.	Ponselnya	kembali	berdenting	ketika	ia

                sedang	melepaskan	jaket.
                  Apakah ada kemungkinan kau akan menyukaiku dan ingin
                mengenalku lebih baik?







        Ilana-In a Blue Moon Content.indd   227                     3/30/2015   10:43:25 AM
   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234