Page 19 - Edisi 163 Mei 2018 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 19

213 Ikel (Riziq)    300,000    233 HM. Mas’ud Said    500,000    253 Dwi Noviari Isdiati    1,000,000    273 Bachtiar Budianto    2,000,000
       214 Nurhayati]      300,000    234 Sugeng      500,000    254 Edy Setyo Utomo     1,000,000    274 Hj. Murtiningsi/A.Latif (Ibu)   2,000,000
       215 Verry Rama      300,000    235 Wahyu Sri Untari    500,000    255 Elok Nurhamdana    1,000,000    275 Isnaini     2,000,000
       216 Hamba Allah     320,000    236 Warno /Rahmadina    500,000    256 Feri Satya I.    1,000,000    276 Shinta Fidria A.    2,000,000
       217 Hj. Didit Hadyatin    350,000    237 Widayadi    500,000    257 Kel.Besar Singosari   1,000,000    277 Syaifullah Masroer    2,000,000
       218 Suwarno         350,000    238 Yanti       500,000    258 Mudjianto    1,000,000    278 Hamba Allah-Jamaah  2,140,000
       219 Hamba Allah     400,000    239 Yossi Khoiruzah    500,000    259 Musta’in    1,000,000    279 Alm. Kurniawan    2,250,000
       220 Martha Ramdani    400,000    240 Warko Yatim    524,000    260 Rizky Novi Y.    1,000,000    280 Mutiha    2,500,000
       221 Novanita R.     400,000    241 Novita Kusuma W.    550,000    261 Robert    1,000,000    281 Zena Travel    2,560,000
       222 Gatot / Novi    400,000    242 Abd. Adzim Irsyad /Lia   650,000    262 Suharsono    1,000,000    282 Retno    3,000,000
       223 Siti Fatma P.    400,000    243 Kotak Depan Kantor    685,000    263 Dodit Yuli M.    1,025,000    283 Yudi Hartanto    3,000,000
       224 Arianta Fariza A.    450,000    244 Hegi Harjoyo    750,000    264 Eric Ferdian A.    1,050,000    284 M. Ikhlasul Amal (Ijul)  4,500,000
       225 Akhmad Naufal H    500,000    245 M. Bachrun R.    750,000    265 Warko Infaq Operasional  1,120,000     285 Hamba Allah (Mandiri)  4,960,000
       226 Ayu Rachmi P.    500,000    246 Asma’un    800,000    266 Anita R.&M. Irfan    1,225,000    286 Riza Puspita / Dody A.  5,000,000
       227 Choirul         500,000    247 H. Zainul Fadli    800,000    267 M. Suhadi    1,265,000    287 Septian    5,000,000
       228 Diah Ismiranti    500,000    248 Roikhin    900,000    268 Hamba Allah (L/S)    1,300,000    288 Hamba Allah (TSH)   5,000,000
       229 Dyah Prita S.    500,000    249 Abdullah    1,000,000    269 Sukoharsono    1,300,000    289 Ahmad Mufid    10,787,620
       230 Ilham & Firdaus    500,000    250 Agnita Adityawardani   1,000,000    270 Imam A./Galuh    1,500,000    290 Masjid  - Yatim    12,960,000
       231 M. Adam Alkaf    500,000    251 Agung Cahyono    1,000,000    271 Jatu I.Okta P.    1,539,000    291 LPI Sabilillah Malang   13,763,700
       232 Ninik Susanti    500,000    252 Alm. Sadelap     1,000,000    272 Istuti M.Ode    1,800,000


       Sambungan dari halaman 3            selama khutbah berlangsung. Dia yakin   Nah, pada Halal Bihalal kali ini, rupanya
                                           materinya sama persis dengan khutbah minggu   mirip dengan bulan Puasa Ramadhan.
        Barangkali, ceramah Halal Bihalal yang   yang lalu. Teryata memang benar, materinta   Sebagian  para  penceramah  itu  selalu
       disampaikan KH Thalhah Hasan selalu ada   selama bulan Ramadah sama semua.   menggunakan ayat yang sama dan penjelasan
       yang beda, menarik dan inspiratif. Kebetulan   Pada jumat terahir bulan suci Ramadhan,   yang sama, dimanapun berada. Hanya
       sebagian ceramahnya yang disampaikan di   jamaah itu memutuskan untuk mencari masjid   saja, yang membedakan itu, diselani dengan
       beberapa tempat selalu saya catat. Teringat   yang jauh dari kediamannya agar supaya   guyonan-guyonan segar agar tidak malal
       seorang jamaah, dia bercerita panjang seputar   mendapatkan nuansa khutbah yang berbeda.   (bosan) selama mendengarkan ceramah.
       materi ceramah (khutbah jumah). Suatu ketika   Rupanya, anggapan ini salah. Khotib jumat   Ahirnya,  sang  Ustad  (penceramah)
       jamaah itu bertutur bahwa saat dirinya sholat   yang akan mengisi ternyata orang yang sama.   mendapatkan gelar baru yatitu “KH Wasairu
       disebuah masjid kota Malang, mendengarkan   Ahirnya, jamaah tersebut memutuskan tidur   Ila Magfirtim”.
       Khutbag seorang Khotib yang menyampaikan   selama proses khutbah hingga rampung.   Dalam sebuah ceramah, seorang ustad
       khutbahnya dengan diawali ayat “Kutiba   Khotib tersebut ahirnya mendapat julukan   memang harus banyak kisah-kisah teladan,
       Alaikum”.                           baru “KH Khutiba Alaikum”.           dan juga banyak membaca informasi agar
        Jamaah itu mendengarkan dengan seksama   Teringat guyonan cerdas Gus Dur, bahwa   supaya materi yang disampaikan itu tidak
       hingga rampung. Baginya, Khutbah kali ini   nanti yang masuk neraka duluan itu penceramah   sama. Minimal, ada sesuatu yang baru, apalagi
       sangat menarik dan cocok pada momentum   (Khotib Jumat) dari pada Sopir Angkot.   orang-orang yang mendengarkan kadang

       bulan suci Ramadhan. Pada jumat berikutnya,   Rupanya, selama khutbah berlansgung justru   lebih mengerti. Wal hasil, pesan dari Sayyid

       jamaah tersebut sholat jumat di masjid yang   Sang Khotib membuat jamaah tertidur pulas   Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kalimah
       lain. Dengan tujuan agar mendapat materi   hingga bermimpi. Bahkan, ada juga Sang   Hikmahnya.
       yang berbeda. Ternyata, khotibnya sama   Khotib ketika ceramah justru menjadi provoktor      ىنملعي هم ىلع ثحبأ نلآا ىلإ تلز لا
       dengan masjid pada minggu yang lalu. Dalam   jamaah, sehingga tidak menambah ketaqwaan

       pikirannya, pasti materinya berbeda dengan   jamaah, sebaliknya menjadikan para jamaah

       materi jumat yang lalu. Setelah mengucapkan   saling bermusuhan dan membenci.   Hingga sekarang , aku tetap mencari orang
       salam, sang Khotib mengawali sebuah ayat   Sementara Sopir Angkot itu ketika membawa   yang mau mengajariku ilmu agama .
       “Kutiba Alaikum”. Rupanya, khutbah kali sama   penumpangnya, justru para penumpangnya   Dalam masalah ilmu agama setiap orang
       persis dengan khutbah seminggu yang lalu.   selalu dzikir kepada Allah selama dalam   harus merasa kurang, sementara dalam
        Pada jumat berikutnya, pindah lagi ke masjid   perjalanan hingga tujuan. Para penumpang   masalah urusan dunia, sebaiknya seseorang
       yang lain, dengan tujuan yang sama. Nah,   itu tak henti-hentinya membaca  istigfar,   harus qonaah agar tidak terjerumus dalam
       rupanya sang Khotib juga memiliki jadwal   sholawat, tahlil, karena khawatir dengan   fitnah. Belajar, tidak harus melalui bangku
       yang sama di masjid itu. Setelah naik mimbar,   keselamatannya, karena sang Sopir Angkot   kuliah, kadang belajar dari orang-orang di
       sang Khotib langsung “Kutiba Alaikum”. Maka,   sedikut ugal-ugalan. Begitulah pesan sufistik   pinggir jalan kadang jauh penuh dengan
       jamaah tersebut ahirnya memutuskan tidur   yang dalam guyonan Gus Dur.   hikmah. (*)


       Sambungan dari halaman 5     Saya sendiri sebagai pen dam ping  beberapa sumber yang tahun lalu  ruangannya.  Setelah  segala
                                  LAZIS sudah melihat bahwa syarat  belum ada sudah mulai ada. Sumber  sesuatunya tertata rapi, tinggal
        Dalam konteks kemasyarakatan  syarat sebagai jembatan yang kuat  itu tentu bukan dari ja maah rutin  memoles saja beberapa ornamen
       program program LAZIS Sabillah  sudah nampak, mereka sudah punya  masjid, aliran itu mulai datang dari  ornamen untuk mempercantik dan
       harus produktif sejalan dengan  kultur melayani dan cukup menjaga  lingkungan sekitar termasuk dari  memperindah bangunan. Tak lupa
       keinginan hati para donatur dan  diri. Saya melihat syarat LAZIS  para pro fesional dan aghniya di  rumah yang baik itu adalah rumah
       para muzakki. Program program  sebagai bendungan air yang bisa  luar Malang.      yang luas  bersih terawat dan jangan
       andalan LAZIS Sabilillah harus  menjadi penampungan air kehidupan   Ibarat banguan rumah. Setelah  lupa rumah yang baik gak hanya
       semakin nyata mengangkat derajat  yang baik bagi komunitas dan  pilar pilar tegak berdiri. Setelah  luas dan bersih disitu harus tinggal
       masyarakat terutama pengikatan  masyarakat sudah mulai nampak.  segala sesuatu yang berkaitan  orang yang bartawqa dan beramal
       kualitas hidup kelompok binaan.  Ini bisa dilihat dari mengalirnya  dengan lantai dan tatanan lahan  saleh. Semoga. (*2018)




                   Pelindung: Dewan Pembina Yayasan Sabilillah: Prof Dr KH. M. Tholchah Hasan, Ketua III Yayasan Sabilillah: Prof Dr. HM.
                   Mas’ud Said MM, Dewan Penasehat: Drs. H. Mas’ud Ali, M.Ag, Prof. DR. H. Ibrahim Bafadlal, Komisi Fatwa: KH. Drs. Abdul
                   Madjid Ridwan, KH. Drs. Marzuki Mustamar, Lc, H. Anas Basori, Ketua LAZIS: Choirul Anwar, SAg. MSi, Wakil Ketua: H.
                   Abdul Adzim Irsyad, Lc. Manager Oprasional: Ust. Sulaiman AP, ST, Pengawas: Hj. Enggar Nursasi, SE, MM, Sekretaris:
                   Mochammad Sholeh, AP, Bendahara Umum: H. Mulyono Hartono, Bendahara Harian: Mafazah, SE.Ak, Networking dan
     Kerjasama: H. Rahmat Hidayat, Heru Patikno, ST, Fundrising: HM. Tukiran S., Dra. Hj. Azizah, Manager Pendistribusian dan Pendayagunaan:
     Sofyan Arief, NM. Taufik Hidayat, Marketing Komunikasi: Yosman A. Ssos, Rizky Noorhamidinah Ssos, Widhi Handoko
   14   15   16   17   18   19   20