Page 7 - Edisi 165 Agustus 2018 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 7
Qira’at dan Tarannum
Sebagai Media Dakwah Islam
(Bagian 1)
AAT ini manusia memasuki dan di O l e h : telah banyak beredar.
tengah era globalisasi, dimana Begitu juga kitab-kitab mengenai Ilmu
Shubungan antar manusia tidak lagi Taufiq Hidayat Qira’at telah banyak terbit. Kitab-kitab klasik
dibatasi oleh sekat-sekat geografis. Infor- tentang Ilmu Qira’at terutama yang dijadikan
masipun mengalir dengan sangat deras ke pedoman atau landasan oleh Imam Ibn al-
seluruh pelosok dunia dalam hitungan detik. maka pada saat ini, terlebih setelah masa Jazari dalam kitabnya “an-Nasyr fil Qira’at
Hubungan antar bangsa berjalan dengan golobalisi, masyarakat mengenal adanya al-‘Asyr” yang tadinya masih berupa manuskrip
intensnya. Hal itu menyebabkan terjadinya bacaan lain selain Hafsh yaitu bacaan yang (makhthuthat) telah banyak ditahqiq oleh
benturan budaya, adat istiadat, keyakinan ada pada Qira’at Tujuh dan Qira’at Sepuluh. kalangan akademis dan pada akhirnya terbit
agama dan lain-lainnya. Dari benturan-benturan Kedua macam bacaan ini akhirnya menjadi dan beredar dipasaran.
ini terjadilah apa yang dinamakan dengan trend yang cukup menarik untu di pelajari. Pada sisi lain, sudah banyak kaset yang
kondisi saling mempengaruhi. Di era globalisasi beredar yang berisi rekaman para qari’/qari’ah
dan komunikasi ini, mereka yang bisa me- ILMU QIRA’AT yang membaca dengan ragam bacaan dari
ngemas sesuatu menjadi menarik, me rekalah Ilmu Qira’at adalah salah satu cabang qira’at tujuh atau sepuluh, apakah dengan
yang bisa mempengaruhi yang lain. Ini di Ulum al-Qur’an yang mempunyai posisi sangat bacaan mujawwad (tarannum, tilawah, dengan
satu sisi; di sisi lain, kondisi demikian juga penting dalam kajian ilmu keislaman. lagu) ataumurattal (tartil). Ternyata kemunculan
berdampak pada menguatnya kecenderungan Bagaimana tidak? Ilmu Qira’at adalah ilmu Ilmu Qira’at dengan segala macam variasinya
terkikisnya dan menipisnya nilai-nilai yang paling konsen dalam meneliti keabsahan telah membawa citra situasi keislaman yang
keagamaan, serta nilai nilai lokal (lokal wisdom). teks Al-Qur’an, baik dari segi pengucapan positif di tengah-tengah masyarakat Islam
Dalam hal budaya, kita melihat kecenderungan maupun dari segi tulisan. Jika sebuah teks dewasa ini.
masyarakat muslim yang meniru perilaku Al-Qur’an dianggap valid baik dari segi ucapan
bangsa-bangsa yang maju, dalam berbagai maupun tulisan, maka teks tersebut sudah Imam Ibn al-Jazari memberikan definisi
hal, mulai dari seni musik, mode, makanan bisa dianalisa oleh ahli-ahli keislaman yang Ilmu Qira’at sebagai berikut :
dan gaya hidup lainnya. Kehidupan modern lain. Pakar tafsir akan meneliti dari segi
mengakibatkan perobahan gaya hidup menjadi kandungan maknanya, pakar sastra akan اهفلاتخاو نآرقلا ظافلأب قطنلا ةيفيك هب فرعي ملع "
materialis, hedonis, egois, rasionalis dan meneliti dari segi kekuatan sastranya, " هلقانل اوزعم
lain sebagainya. sementara para ahli hukum Islam (fuqaha)
Umat Islam terlihat gagap dan gamang di akan meneliti dari kandungan hukum dan Artinya : Ilmu yang membahas tata cara
tengah kemajuan yang demikian pesat. apa yang bisa di istinbath-kan dari ayat-ayat mengucapkan lafazh-lafzah Al-Qur’an dan
Menghadapi hal-hal demikian maka hukum. Pakar gramatika bahasa Arab akan perbedaannya dengan menisbatkan bacaan-
masyarakat muslim masa kini memerlukan meneliti segi nahwu-sharaf (Gramatika- bacaan tersebut kepada perawinya. (Munjid
لكلاب
ةيفيك
قطنلا
تام
قيرطو
ةينآرقلا
فرعي
ملع
هب
”
sebuah strategi da’wah Islam yang bisa Morfologi) untuk dijadikan rumusan kaidah al-Muqri’in h.)
“.
اهئادأ
وزع
اقافتا
membawa umat agar mereka tetap “istiqamah” umum dalam kedua ilmu tersebut. اهفلاتخاو هلقانل هجو لك قطنلا عم افلاتخاو فرعي ملع "
ظافلأب
نآرقلا
هب
ةيفيك
dengan keislamannya. Umat Islam juga perlu Untuk meneliti keabsahan sebuah teks Syekh Abdul Fattah al-Qadli dalam kitabnya
اوزعم
هلقانل
"
mengemas agar dakwah Islamiyah tetap Al-Qur’an diperlukan rangkaian penelitian “al-Budur az-Zahirah” memberikan definisi
diminati diminati oleh masyarakat kontemporer. yang cukup mendalam yang mencakup segi yang tidak berbeda dengan Ibn al-Jazari,
Sehingga Islam tetap eksis di manapun dan kesahihan sanadnya, kesesuaiannya namun sedikit lebih rinci lagi. Beliau
sampai kapan pun, shalih likulli zaman wa dengankaedah-kaedah bahasa arab dan mengatakan:
makan. kesesuaianya dengan Rasm Usmani. Tiga
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam hal ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang- قيرطو ةينآرقلا تام لكلاب قطنلا ةيفيك هب فرعي ملع ”
dan menjadi rujukan utama dalam memahami orang yang betul-betul ahli dalam bidangnya. “. هلقانل هجو لك وزع عم افلاتخاو اقافتا اهئادأ
Islam, perlu di sosialisasikan kepada Pada saat ini Ilmu Qira’at kembali dikaji
masyarakat dengan baik dan dengan metode oleh banyak kalangan. Bisa dikatakan bahwa Artinya : Ilmu Qira’at ialah ilmu yang
pendekatan yang baik pula. Tujuan akhirnya Ilmu Qira’at telah hidup kembali, setelah membahas tentang cara-cara mengucapkan
adalah bagaimana Al-Qur’an menjadi sebuah demikian lama tertidur. Banyak institusi dan melafazhkan kalimat-kalimat Al-Qur’an,
kitab “hidayah” dalam kehidupan masyarakat pendidikan agama Islam yang mengkhususkan baik yang disepakati (oleh ahli qira’at) atau
sehari-hari. Banyak hal yang perlu diungkap diri mengajarkan Ilmu Qira’at, seperti di yang diperselisihkan, dengan selalu
dalam Al-Qur’an agar bisa menjadi barometer Kulliyyatul Qur’an diIslamic University Madinah menisbatkan semua bacaan tersebut kepada
mengukur kebenaran dan kebaikan. Saudi Arabia, Kulliyyatul Qur’an di Jami’ah para perawinya masing-masing. (al-Budur
Diantara metode yang cukup menarik adalah al-Azhar cabang Thantha, Mesir. az-Zahirah :)
melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an Lalu Jami’ah Ulum al-Qur’an di Sudan, Dari definisi diatas ada beberapa hal yang
dengan “tarannum” atau melagukan bacaan belum lagi Program Studi Ilmu Qira’at yang bisa dikemukakan disini yaitu :
Al-Qur’an. Melagukan bacaan Al-Qur’an akan ada pada konsentrasi ilmu-ilmu kequr’anan Pertama : Ilmu Qira’at adalah ilmu yang
bisa mengimbangi masyarakat modern yang pada sebuah perguruan tinggi, belum lagi terkait dengan teks-teks Al-Qur’an dari segi
gandrung akan musik dan seni kontemporer pada lembaga-lembaga swasta dan perorangan cara pengucapannya. Hal ini berbeda dengan
saat ini. dan lain sebagainya. Sementara itu banyak ilmu tafsir yang menganalisa makna yang
Jika pada masa lalu, kaum muslimin sudah bacaan Al-Qur’an dengan berbagai macam ada di balik teks-teks Al-Qur’an.
terbiasa dengan satu macam bacaan saja riwayat dari Imam Tujuh (al-Qurra’ as-Sab’ah)
yaitu bacaan Imam ‘Ashim, riwayat Hafsh, atau Imam sepuluh (al-Qurra’ al-‘Asyrah) Bersambung...
Majalah Komunitas Sabilillah 7
Edisi 165 / Agustus 2018 / Thn: 07

