Page 15 - Edisi 125 Februari 2015 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 15

Psikologi  Parenting                                                         Diasuh oleh: Muhammad Mahpur



                                                                                      Dosen Psikologi UIN Maliki Malang



             Bermain dan Dunia Berkembang Anak



        PADA masa awal perkembangan anak usia                                    seloroh orang tua pada anak, ojo dolanan
      dini, bermain memiliki peranan penting dalam                               ae, ndang sinau kono, atau lek kowe dolanan
      merangsang kualitas perkembangan mereka.                                   terus, kapan sinahumu, kowe ora iso pinter.
      Bermain melibatkan dinamika perubahan anak                                 Ojo dolanan  ae, ngganggu  wong  istirahat
      yang bersifat multisensori, interaktif, kreatif                            (jangan  bermain saja, segera  belajar  atau
      dan imajinatif. Cara berkembang seperti itu                                kalau kamu bermain saja, kapan belajarmu,
      dibutuhkan untuk merangsang pembentukan                                    kamu tidak akan pandai. Jangan bermain saja,
      otak yang bermanfaat lebih lanjut memaksi-                                 mengganggu orang beristirahat).
      malkan daya kognisi, emosi, sosial, motorik,                                 Sebagian  orang tua ada yang menilai
      moral dan beragam kematangan lain yang                                     negatif bermain. Bermain dilihat dari sudut
      dapat dilihat sesuai kepentingan perkemban-                                pandang kepentingan orang tua, tetapi jarang
      gan kemanusiaan anak. Beberapa bahasan                                     bermain dilihat dari kepentingan perkem  ba-
      ke depan, saya akan membahas mengenai                                      ngan anak. Pelarangan yang drastis/tiba-tiba
      dasar bermain dan sumbangannya terhadap                                    pada aktifitas bermain anak mengakibatkan
      perkembangan anak. Bagi pembaca, jika ingin                                penilaian yang tidak ramah pada pilihan ak-
      berdiskusi, silahkan mengirimkan pertanyaan                                tifitas anak. Padahal bermain adalah pilihan
      ke redaksi.                                                                aktifitas manusia dan hak yang semestinya
        Bahkan  bagi  manusia  secara  keseluru-  formen manusia begitu mudah diinternalisasi.   disediakan dalam satuan siklus kehidupan
      han bermain menjadi kebutuhan yang tidak   Secara manusiawi, bermain adalah kebutuhan   manusia, terlebih anak-anak.
      terpisahkan bagi keseimbangan hidup demi   yang tidak bisa dipisahkan dari siklus hidup   Semakin orang tua menganulir dan mem-
      memperoleh kesenangan atau kebahagiaan.   manusia. Bermain mengembalikan manusia   batasi secara ketat pada anak dalam aktifitas
      Sejatinya, sifat manusia memiliki kecender-  dalam kemerdekaannya untuk mendapatkan   bermain, bahkan menghilangkan intensitas
      ungan sebagai manusia yang suka bermain,   keutuhannya.                    bermain, anak akan menjadi stress  dan
      homo ludens (Huizinga, 1990). Mangunwijaya   Bermain dengan demikian menyangkut   bahkan rasa frustasi anak akan mendorong
      (1990) menguraikan bahwa kemampuan   kebutuhan  dasar manusia. Dalam konteks   berbagai  bentuk perilaku  kontra-produktif.
      bermain  menjadikan kita bisa  merasakan   ini bukan bermain yang berkonotasi negatif,   Anak berkembang dalam ketidakseimbangan.
      sebagai manusia seutuhnya dengan ekpresi   tetapi bermain ditempatkan sebagai sebuah   Bermain adalah proses yang dialami anak
      spontanitas, autentik, dan kemampuan aktual-  aktifitas yang melekat dalam setiap kebutu-  sebagai media sosial berkembang. Bermain
      isasi diri. Bermain merupakan wujud ekspresi   han  manusia  untuk memperoleh  ekspresi   menjadi tempat menstimulasi kebutuhan
      kemerdekaan, pendewasaan dan penemuan   gembira, rileks yang membebaskan dari   perkembangan  anak  yang  secara  spesifik
      manusia sejati.                      tekanan fungsi rutinitas. Bermain, menurut   tak bisa diukur secara tunggal, seperti tidak
        Di dalam bermain manusia memperoleh   Sejarawan Belanda Johan Huizinga (1990),   membikin anak memiliki prestasi akademik
      kebahagiaan, kenikmatan yang intensif,   merupakan dorongan sosial yang ada lebih   sebagai ukuran anak berkembang menjadi
      kelegaan, pertemanan, dan ketrampilan   tua dari kebudayaan itu sendiri. Suatu misal,   lebih baik.
      relasi yang mencair (emansipatoris). Masih   sejak lahir manusia diajak bermain. Biasanya   Prestasi akademik tidak bisa semata dija-
      menurut Mangunwijaya,  kondisi itu hanya   orang tua mengajak bermain bayi baru lahir   dikan generalisasi bagi perkembangan anak.
      dapat kita peroleh dalam situasi kemerdekaan   dengan  cara ditimang-timang  (jawa  : dilil-  Dunia berkembang anak membutuhkan pe-
      yang bebas dari kekangan, dan kedukaan.   ing) untuk memperkaya stimulus sehingga   ngalaman di luar pentas kompetisi akademik.
      Katanya, manusia yang tidak merdeka tidak   diketahui berbagai respon anak. Anak diajak   Bermain bagi anak menjadi rujukan penting
      akan bisa bermain “spontan, lepas, gembira   dialog menggunakan teknik bermain. Sebelum   belajar hidup baik dalam mematangkan
      dan mendapatkan kepuasan.”           lahirpun anak didengarkan sebuah permainan   perkembangan mental personal mereka
        Ketika seminggu lamanya sebuah keluarga   musik, nyanyian lagu atau nyanyian ayat-ayat   ataupun  meneguhkan  ketrampilan  mental
      berada dalam rutinitas beraktifitas, ada anak   suci Al-Quran dan Salawat Nabi.   sosialnya. Bermain memfasilitasi tahap-tahap
      yang bersekolah, rasanya situasi penat, jenuh   Namun lambat laun seiring usia anak   pendewasaan anak untuk belajar mengelola
      dan penuh beban menghinggapi keseharian   semakin  bertambah, beberapa  orang  tua   latihan otonomi diri yang proses menjadinya
      mereka. Mereka menggunakan waktu libur   menganggap bermain sebagai aktifitas se-  perlu diimbangi dunia eksternalnya. Dunia
      sehari atau dua hari untuk “refreshing.” Ada   makin terpinggirkan atau tidak begitu penting.   eksternal anak dibutuhkan untuk mengoreksi
      juga yang berusaha meningkatkan performa   Biasanya bermain selalu dihadapkan dengan   teknik menjadi semakin matang menggunakan
      kerja perusahaan dengan menambahkan   aktifitas  belajar  atau  kondisi  pendisiplinan   sudut pandang respon dunia eksternal anak.
      kegiatan pelatihan dan outbond. Isinya pun   pengasuhan. Saya pernah menjumpai orang   Oleh karena itu pada sesi-sesi berikutnya,
      masuk kategori bermain. Dalam bermain di   tua mengatakan anaknya nakal karena tidak   bermain sebagai bagian penting dari kebutu-
      outbond pelajaran hidup justru mudah ditang-  bisa tenang, banyak omong, dan sering   han tumbuh-kembang anak akan diulas dari
      kap, dipahami dan dirasakan langsung. Pada   membikin berantakan seisi rumah. Kondisi itu   berbagai sudut pandang.
      situasi  yang  menyenangkan  justru makna   biasanya anak berada dalam kemauan totali-  Manfaat  bermain  bagi  perkembangan
      tentang kerja, kepemimpinan, kerjasama, per-  tas bermain. Kita juga seringkali mendengar   (Sambungan kedua).

                                                                                              Majalah Komunitas Sabilillah   15
                                                                                        Edisi 125 / Februari 2015 / Thn: 07
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20