Page 887 - Fisika Dasar 2 - Mikrajuddin Abdullah 2017
P. 887

Bab 12 Pengenalan Teori Kuantum Atom


                        a)  Bilangan  kuantum  utama,  n.  Bilangan  ini  pertama  kali  dipernalkan
                            Bohr pada saat merumuskan teori atom hidrogen. Khusus untuk atom

                            hidrogen, bilangan kuantum ini adalah satu-satunya bilangan kuantum
                            yang menyatakan energi elektron atom hidrogen, yaitu


                                       13 , 56
                                 E   
                                  n
                                         n 2
                           dengan n memiliki nilai dari 1 sampai .
                        b)  Bilangan  kuantum  orbital,  .  Bilangan  ini  menyatakan  besarnya
                            momentum sudut yang dimiliki elektron. Untuk setiap nilai n, bilangan

                            kuantum orbital memiliki n buah nilai, yaitu dari 0 sampai n-1. Jadi,
                            untuk n = 5, nilai  adalah 0, 1, 2, 3, dan 4. Jika nilai bilangan kuantum
                            orbital    sebuah elektron  maka besar momentum sudut yang dimiliki

                            elektron tersebut adalah

                                               h
                                        
                                 L   (   ) 1                                            (12.29)
                                              2 


                        Contoh 12.4
                                Sebuah elektron berada dalam keadaan dengan bilangan kuantum
                        utama n = 3. Tentukan momentum-momentum sudut yang dapat dimiliki

                        elektron tersebut.

                        Jawab
                                Untuk n = 3 maka bilangan kuantum orbital adalah  = 0, 1, dan 2.
                        Momentum-momentum sudut yang mungkin dimiliki elektron adalah


                                                             h              h
                                Untuk  = 0:  L     (   ) 1      0 ( 0   ) 1    0
                                                       
                                                            2             2

                                                            h        h
                                Untuk  = 1:  L      1 ( 1   ) 1    2
                                                            2       2 


                                                             h        h
                                Untuk  = 2:  L       2 ( 2    ) 1    6
                                                            2       2 







                                                           875
   882   883   884   885   886   887   888   889   890   891   892