Page 217 - mewarna pelangi
P. 217
“Habis?” Aku terkesima.
“Budin!” Pak Lah membalas pendek.
“Budin?” Aku tidak kenal dengan orang itu. Aku mula berfikir
sesuatu. Apa kaitan Budin dengan orang-orang kampung? Bagai suatu
misteri.
Aku menjadi semakin berminat untuk mengetahui dengan lebih
lanjut lagi.
“Budin tu siapa?” tanyaku pada Pak Lah.
“Lintah darat yang menghisap darah orang-orang kampung,”
sambung Pak Lah.
“Lintah darat?” aku terperanjat.
“Dia menjadi tempat kami orang-orang kampung meminjam
wang.”
“Jadi?” Lagak aku seperti seorang pemberita yang menemuramah
seorang tokoh politik yang terkenal.
217

