Page 213 - mewarna pelangi
P. 213
“Tahun ini padi tak menjadi,” Pak Lah mengeluh.
“Mengapa?” Aku merenung sayu wajahnya.
“Ancaman serangga perosak dan tikus.”
“Kenapa tak minta bantuan Jabatan Pertanian?” Tanganku ligat
mencatat butir-butir penting di atas kertas. Untuk dijadikan bahan
cerita.
“Awak ni siapa?” Pak Lah dapat mengesan.
Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Pohon rumbia melenggok-
lenggok. Batang merenung dan lalang memenuhi tebing sungai. Anak
haruan dan keli bermain dengan penuh keriangan. Sebatang pohon
pinang kelihatan tidak jauh dari situ.
“Saya sebenarnya seorang penulis bebas.”
“Hidup kami lebih mengenal penderitaan daripada kesenangan.”
213

