Page 84 - mewarna pelangi
P. 84
“Bila?” soalku pula sambil menghabiskan sisa-sisa kopi ‘o’ yang
masih tinggal sedikit lagi.
“Awal bulan depan,” ibu menjawab sambil membetulkan ikatan
sanggulnya agar kemas dan rapi. Aku tanpa hentinya menyoroti
persoalan itu.
“Anaknya yang mana satu?”
“Rohana anak yang bongsu.”
“Siapa bakal suaminya?” soalku bertubi-tubi kali.
“Halim,” jawab ibu.
Aku pantas mencelah bila mendengar nama itu:
“Halim, yang sama sekolah dengan saya tu?” Aku mengangkat
kepala tinggi sedikit.
“Ya!” angguk ibu pantas.
Ini yang dinamakan takdir. Jodoh dan ajal di tangan Tuhan. Kita
sebagai manusia hanya mampu merancang tapi Tuhan yang
84

