Page 352 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 352
2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko
Setiap perusahaan tentu berhadapan dengan risiko ketidakpastian usaha.
Ketidakpastian dapat terjadi dalam beberapa hal dan disebabkan oleh beberapa
faktor. Misalnya, ketidakpastian harga akibat gangguan proses produksi atau
gangguan pada alur distribusi. Atau risiko produk/jasa tidak laku di pasar
akibat selera konsumen berubah. Atau risiko kerugian akibat musibah
kebakaran pabrik, atau bencana gempa bumi, badai, gunung api meletus, dan
banjir. Atau juga akibat kecelakaan. Contoh, tenggelamnya kapal pengangkut
barang yang merupakan rantai distribusi perusahaan. Atau akibat para
karyawan melakukan mogok kerja.
Berhadapan dengan ketidakpastian usaha seperti itu, maka manajemen
perusahaan, termasuk perusahaan daerah, harus menerapkan ‘manajemen
risiko’. Manajemen risiko meliputi, identifikasi risiko, analisis risiko dan
evaluasi risiko.
2.1 Identifikasi Risiko
1). Darmawi
Menurut Darmawi (2008) identifikasi risiko merupakan tahapan pertama
dalam proses manajemen risiko. Lebih lanjut Darmawi menjelaskan
identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus
menerus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko
atau kerugian terhadap kekayaan, hutang, dan personil perusahaan. Proses
identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting, karena dari
proses inilah, semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu
proyek, harus diidentifikasi. Makanya Darmawi menjelaskan proses
identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, sehingga tidak
ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Dalam pelaksanaannya,
identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain :
a. Brainstorming Questionnaire,
b. Industry benchmarking,
c. Scenario analysis,
d. Risk assessment workshop,
e. Incident investigation,
f. Auditing,
328

