Page 41 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 41

Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah
                    ditegaskan juga bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang
                    pembentukan,  penggabungan,  pelepasan  kepemilikan,  dan/atau
                    pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman
                    pada  peraturan  perundang-undangan.  Kedua  pengaturan  diatas  tidak
                    memberikan definisi maupun batasan yang jelas tentang BUMD.

                         Sejak diundangkannya Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2014
                    tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-
                    Undang Nomor 9 Tahun 2015, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari
                    perusahaan  daerah  berubah  menjadi  BUMD.  Kemudian  sejak  adanya
                    instruksi Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan
                    Bentuk  BUMD  disebutkan  bahwa  BUMD  memiliki  dua  bentuk  yaitu
                    Perumda (Perusahaan Umum Daerah) dan Perseroda (Perseroan Daerah).


                    Dalam Pasal 332 UU Nomor 23 tahun 2014 disebutkan bahwa :

                    1) Sumber  Modal  BUMD  terdiri  atas;  a.  Penyertaan  modal  daerah;  b.
                      Pinjaman; c. Hibah; dan d. Sumber modal lainnya.
                    2) Sumber modal lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
                      adalah : a. Kapitalisasi cadangan; b. Keuntungan revaluasi aset; dan c.
                      Agio saham.

               Pasal 333 menyatakan :


                    1) Penyertaan  modal  Daerah  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  332
                       ayat (1) huruf a ditetapkan dengan Perda.
                    2) Penyertaan modal Daerah dapat dilakukan untuk pembentukan BUMD
                       dan penambahan modal BUMD.
                    3) Penyertaan modal Daerah dapat berupa uang dan barang milik Daerah.
                    4) Barang  milik  Daerah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  dinilai
                       sesuai  nilai  riil  pada  saat  barang  milik  Daerah  akan  dijadikan
                       penyertaan modal.
                    5) Nilai  riil  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  diperoleh  dengan
                       melakukan  penafsiran  harga  barang  milik  Daerah  sesuai  dengan
                       ketentuan peraturan perundang-undangan.






                                                   24
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46