Page 36 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 36
menyarankan agar perilaku para eksekutif bisnis perlu segera dibenahi.
Hal ini diperlukan karena terbukti pemerintahan sejumlah negara di
dunia terpaksa memberhentikan dana talangan kepada korporasi yang
bertumbangan di tangan para eksekutif yang berperilaku buruk
tersebut.
Para eksekutif seperti berlomba-lomba memperkaya diri dengan
membagikan bonus diantara sesama eksekutif. Hal itu berlangsung di
tengah bolongnya keuangan perusahaan karena terjebak bisnis berisiko
dalam jumlah triliunan dolar AS. Risiko ini, antara lain, terlihat dari
maraknya penerbitan obligasi oleh korporasi untuk dikucurkan sektor
bisnis berisiko, seperti sektor perumahan AS. Makin tinggi omzet
penjualan obligasi, makin tinggi bonus.
Dari Frankfurt, Jerman, muncul berita bahwa sistem penggajian
para eksekutif telah menjadi salah satu pemicu krisis keuangan global.
“Para bos di industri keuangan seharusnya dihukum dengan
pengurangan gaji jika mereka menyebabkan kehancuran perusahaan
karena menjalankan bisnis yang diwarnai dengan risiko berlebihan,”
demikian proposal yang diajukan Center For Financial Studies (CFS),
yang memaparkan hasil studi di markas mereka di Frankfurt. CFS
didukung 120 lembaga global, seperti bank, perusahaan asuransi,
sektor industri, dan lembaga pemerintahan. Presiden CFS Otmar Issing
adalah mantan ekonom senior di Bank Sentral Eropa. CFS
menyimpulkan, sistem pemberian bonus yang berlaku selama ini
membuat para eksekutif malah dirangsang menjalankan bisnis berisiko
tinggi. Namun, disisi lain, jika keputusan mereka soal bisnis telah
menyebabkan munculnya risiko, demikian CFS, para eksekutif itu
tidak mendapatkan hukuman. “Adalah penting untuk mengubah sistem
bonus dengan menghidupkan sistem bonus/malus. Hal ini akan bisa
merangsang eksekutif menghindari bisnis berisiko tinggi”. demikian
isi proposal CFS yang disiapkan Guenter Franke dan Jan Pieter
Krahnen dalam tulisan berjudul “Sekuritisasi Masa Depan”.
Sistem bonus merujuk pada kelayakan pemberian bonus jika
kinerja keuangan perusahaan baik. Sedangkan sistem malus merujuk
ke pemberian hukuman (berupa pengurangan gaji) jika para eksekutif
berbuat salah. Dengan sistem sekarang yang tanpa hukuman, para
eksekutif akan mendapatkan bonus jika berhasil menjual produk
19

