Page 316 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 316
bagaimana --
bagaimana dia mati. Semua orang mendengar hal itu, sudah menyebar ke seluruh
sekolah. Kamu benar-benar berani menghadapi dia seperti itu.'
Isi tubuh Harry mengembang kembali begitu cepat sehingga dia merasa seolah-
olah dia bisa melayang beberapa inci dari lantai yang bertebaran kotoran itu.
Siapa yang peduli tentang kuda terbang bodoh, Cho mengira dia benar-benar
berani. Sejenak, dia mempertimbangkan untuk memperlihatkan kepadanya
secara tidak sengaja (yang disengaja) tangannya yang terluka selagi dia
membantunya mengikat bingkisannya ke burung hantu ... tetapi tepat saat
pikiran menggetarkan itu muncul pintu Kandang Burung Hantu terbuka lagi.
Filch si penjaga sekolah masuk sambil mendesah ke dalam ruangan itu. Ada
rona ungu di pipinya yang cekung dan penuh urat halus, daging di bawah
dagunya bergetar dan rambut kelabunya yang tipis acak-acakan; dia jelas berlari
ke sini. Mrs Norris berderap di belakangnya, sambil menatap ke atas kepada
burung-burung hantu di atas kepala dan mengeong lapar. Ada gerakan-gerakan
sayap yang tidak tenang dari atas dan seekor burung hantu cokelat besar
mengatupkan paruhnya dengan gaya mengancam.
'Aha!' kata Filch, sambil mengambil langkah menuju Harry, pipinya yang
berkantung bergetar karena marah. 'Aku dapat kisikan bahwa kamu bermaksud
memesan Bom Kotoran dalam jumlah besar.'
Harry melipat lengannya dan menatap penjaga sekolah itu.
'Siapa yang memberitahumu aku sedang memesan Bom Kotoran?'
Cho memandang dari Harry kepada Filch, juga merengut, burung hantu di
lengannya, capek berdiri dengan satu kaki, memberi uhu menegur, tetapi dia
mengabaikannya.
'Aku punya sumber-sumberku,' kata Filch dalam desis puas diri. 'Sekarang
serahkan apapun yang sedang kau kirim.'
Sambil merasa sangat bersyukur dia tidak berlama-lama mengeposkan suara itu,
Harry berkata, 'Aku tidak bisa, sudah pergi.'
'Pergi?' kata Filch, air mukanya berubah karena marah.
'Pergi,' kata Harry dengan tenang.

