Page 407 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 407

Ramalan Mimpi.


               Harry mengira waktunya lebih baik dipakai untuk mengerjakan esai hukuman
               Snape daripada duduk di sini sambil mencoba menemukan arti dalam mimpi-
               mimpi rekaan.


               Namun, kelihatannya dia bukan satu-satunya orang dalam Ramalan yang sedang
               marah. Profesor Trelawney membanting sebuah salinan Ramalan ke meja di
               antara Harry dan Ron dan berjalan pergi, bibirnya dikerutkan; dia melemparkan
               salinan Oracle berikutnya kepada Seamus dan Dean, hampir mengenai kepala
               Seamus, dan menyorongkan yang terakhir ke dada Neville dengan tenaga yang
               begitu kuat sehingga dia jatuh dari kursi empuknya.


               'Well, lanjutkan!' kata Profesor Trelawney denagn kuat, suaranya melengking
               tinggi dan agak histeris, 'kalian tahu apa yang harus dilakukan! Atau apakah aku
               seorang guru yang begitu di bawah standar sehingga kalian belum pernah belajar
               bagaimana membuka sebuah buku?'


               Kelas itu menatapnya dengan bingung, lalu kepada satu sama lain. Namun,
               Harry mengira dia tahu apa masalahnya. Selagi Profesor Trelawney menyentak
               kembali ke kursi guru yang bersandaran tinggi, matanya yang diperbesar penuh
               air mata kemarahan, dia mencondongkan kepalanya mendekat pada kepala Ron
               dan bergumam, 'Kukira dia sudah dapat hasil inspeksinya.'


               'Profesor?' kata Parvati Patil dengan suara berbisik (dia dan Lavender selalu agak
               mengagumi Profesor Trelawney). 'Profesor, apakah ada yang -- er -- salah?'


               'Salah!' teriak Profesor Trelawney dengan suara yang bergetar penuh emosi.
               'Tentu saja tidak! Aku telah dihina, tentu saja ... seseorang telah membuat
               sindiran kepadaku


               ... tuduhan-tuduhan tak berdasar dilontarkan ... tapi tidak, tidak ada yang salah,
               tentu saja!'


               Dia mengambil napas panjang dengan ngeri dan mengalihkan pandangan dari
               Parvati, air mata kemarahan berjatuhan dari balik kacamatanya.


               'Aku tidak mengatakan apa-apa,' dia tersedak, 'tentang enam belas tahun
               pengabdian setia ... sudah berlalu, tampaknya, tanpa diperhatikan ... tapi aku
               tidak akan dihina, tidak, aku tidak akan!'
   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412