Page 511 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 511
batang-batang logam mengkilat, menyeberangi batu yang dingin dan gelap ... dia
rata dengan lantai, meluncur pada perutnya ... tempat itu gelap, tetapi dia bisa
melihat benda-benda di sekitarnya berkilauan dalam warna-warna aneh dan
bergetar ... dia memalingkan kepalanya ... pada pandangan pertama koridor itu
kosong ... tetapi tidak
... seorang lelaki sedang duduk di lantai di depan, dagunya turun ke dadanya,
garis bentuk tubuhnya bersinar dalam gelap ...
Harry menjulurkan lidahnya ... dia merasakan bau lelaki itu di udara ... dia hidup
tetapi mengantuk ... duduk di depan sebuah pintu di ujung koridor itu ...
Harry ingin menggigit lelaki itu ... tapi dia harus menguasai dorongan itu ... dia
punya pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan ...
Tetapi lelaki itu bergerak ... sebuah Jubah perak jatuh dari kakinya ketika dia
melompat bangkit; dan Harry melihat garis bentuk tubuhnya yang bergerak-
gerak dan kabur menjulang tinggi di atasnya, melihat sebuah tongkat ditarik dari
sebuah ikat pinggang ... dia tidak punya pilihan ... dia menaikkan tubuh dari
lantai dan menyerang sekali, dua kali, tiga kali, menghujamkan taring-taringnya
dalam-dalam ke daging lelaki itu, merasakan tulang iganya remuk di bawah
rahangnya, merasakan semburan darah yang hangat ...
Lelaki itu sedang berteriak kesakitan ... lalu dia terdiam ... dia merosot ke
belakang pada dinding ... darah memercik ke lantai ...
Keningnya sakit sekali ... sakit seperti akan meledak ...
'Harry! HARRY!'
Dia membuka matanya. Setiap inci tubuhnya tertutup keringat sedingin es;
sepreinya terpelintir di sekelilingnya seperti jaket pengikat, dia merasa seolah-
olah besi pengorek api yang panas sekali sedang dilekatkan ke keningnya.
'Harry!'
Ron sedang berdiri di atasnya terlihat benar-benar ketakutan. Ada lebih banyak
figur di kaki ranjang Harry. Dia mencengkeram kepalanya dengan tangan; rasa
sakit itu membutakannya ... dia bergulung ke kanan dan muntah ke tepi kasur.
'Dia benar-benar sakit,' kata sebuah suara takut. 'Apakah kita harus memanggil

