Page 830 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 830
'Ya ampun,' kata Hermione sambil mencengkeram lengan Harry begitu eratnya
sehingga mati rasa dan terlihat seolah-olah dia akan pingsan, 'dia -- dia ingat!'
'HERMY!' raung Grawp. 'DI MANA HAGGER?'
'Aku tidak tahu!' cicit Hermione, ketakutan. 'Maafkan aku, Grawp, aku tidak
tahu!'
'GRAWP MAU HAGGER!'
Salah satu tangan besar raksasa itu menjulur ke bawah. Hermione mengeluarkan
jeritan sungguh-sungguh, berlari mundur beberapa langkah dan terjatuh. Tanpa
tongkat, Harry menguatkan diri untuk memukul, menendang, menggigit ataupun
apapun lagi yang harus dilakukannya ketika tangan itu menukik ke arahnya dan
menjatuhkan seekor centaur seputih salju.
Itulah yang ditunggu-tunggu para centaur -- jari-jari terulur Grawp berada satu
kaki dari Harry ketika lima puluh anak panah membumbung di udara ke raksasa
itu, menghujani wajahnya yang besar, menyebabkan dia melolong kesakitan dan
marah dan menegakkan diri, sambil menggosok wajahnya dengan tangannya
yang besar, mematahkan tangkai-tangkai anak panah tetapi memaksa mata anak
panah semakin dalam.
Dia menjerit dan menyentakkan kakinya yang besar dan para centaur
berhamburan menghindari, butiran-butiran darah Grawp sebesar kerikil
menghujani Harry ketika dia menarik Hermione bangkit dan mereka berdua
berlari secepat mungkin mencari perlindungan ke pepohonan. Begitu berada di
sana mereka memandang ke belakang; Grawp sedang meraih-raih dengan
membabi-buta kepada para centaur sementara darah mengalir menuruni
wajahnya; mereka mundur dengan kacau, berderap pergi melalui pepohonan di
sisi lain tempat terbuka iru. Harry dan Hermione menyaksikan Grawp meraung
marah sekali lagi dan mengejar mereka, menghantam lebih banyak pohon lagi ke
samping selagi dia lewat.
'Oh tidak,' kata Hermione, gemetar begitu hebar sehingga lututnya lemas. 'Oh,
itu mengerikan. Dan dia bisa membunuh mereka semua.'
'Aku tidak begitu cerewet tentang itu, sejujurnya,' kata Harry dengan getir.
Suara-suara derap para centaur dan raksasa yang melakukan kesalahan besar itu
semakin redup. Selagi Harry mendengarkannya, bekas lukanya berdenyut hebat

