Page 845 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 845

pintu ruangan otak di belakang mereka. 'Flagrate!'


               Dia menggambar dengan tongkatnya di tengah udara dan sebuah tanda 'X'
               menyala timbul di pintu. Begitu pintu berbunyi menutup di belakang mereka ada
               gemuruh hebat, dan sekali lagi dinding mulai berputar sangat cepat, tetapi
               sekarang ada tanga buram merah-emas yang besar di antara warna biru redup
               dan, ketika semuanya diam lagi, tanda silang menyala itu masih terbakar,
               memperlihatkan pintu yang telah mereka coba.


               'Pemikiran bagus,' kata Harry. 'OK, mari coba yang satu ini --'


               Lagi-lagi, dia berjalan langsung ke pintu di hadapannya dan mendorongnya
               terbuka, tongkatnya masih terangkat, yang lainnya mengikuti dia.


               Ruangan ini lebih besar dari yang sebelumnya, bercahaya suram dan berbentuk
               persegi, dan di tengahnya mencekung, membentuk sebuah lubang batu besar
               sedalam sekitar dua puluh kaki. Mereka sedang berdiri di deretan paling puncak
               dari apa yang tampak seperti bangku-bangku batu yang terdapat di sekeliling
               ruangan itu dan menurun dengan langkah-langkah curam seperti sebuah
               amphitheater, atau ruang sidang tempat Harry disidang oleh Wizengamot. Akan

               tetapi, alih-alih sebuah kursi berantai, ada mimbar batu yang ditinggikan di pusat
               lubang itu, di atasnya terdapat sebuah atap melengkung dari batu yang tampak
               begitu kuno, retak dan remuk sehingga Harry heran benda itu masih berdiri.
               Tanpa didukung dinding-dinding di sekitarnya, pada tap melengkung itu
               bergantung sebuah tirai atau tudung hitam yang compang-camping yang,
               walaupun udara dingin di sekitar tak bergerak, sedang berkibar sedikit seolah-
               olah baru saja disentuh.


               'Siapa di sana?' kata Harry sambil melompat turun ke atas bangku di bawah.
               Tidak ada suara yang menjawab, tetapi tudung itu terus berkibar dan bergoyang.


               'Hati-hati!' bisik Hermione.


               Harry bersusah payah menuruni bangku-bangku itu satu per satu sampai dia
               mencapai dasar batu lubang cekung itu. Langkah-langkah kakinya bergema kuat
               selagi dia berjalan lambat-lambat menuju mimbar. Atap melengkung tirus itu
               tampak jauh lebih tinggi dari tempatnya berdiri sekarang daripada ketika dia
               memandang ke bawah ke arahnya dari atas. Tudung itu masih bergoyang dengan
               lembut, seolah-olah seseorang baru saja melewatinya.


               'Sirius?' Harry berucap lagi, tetapi lebih pelan sekarang karena dia sudah lebih
   840   841   842   843   844   845   846   847   848   849   850