Page 842 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 842
dia tidak punya pilihan. Dia berpaling untuk menghadap pintu itu dan berjalan
maju ...
persis seperti di dalam mimpinya, pintu itu mengayun terbuka dan dia berjalan
cepat melewati ambang pintu, yang lainnya mengikuti.
Mereka berdiri di atas sebuah ruangan melingkar yang besar. Segala hal di sini
hitam termasuk lantai dan langit-langit; pintu-pintu hitam identik, tanpa tanda
dan tanpa pegangan terletak pada jarak-jarak tertentu mengelilingi dinding-
dinding yang hitam, diselang-seling dengan cabang-cabang lilin yang nyala
apinya membara biru; cahaya dingin, berkilauan terpantul di lantai pualam
berkilat membuatnya tampak seolah-olah ada air gelap di bawahnya.
'Seseorang tutup pintunya,' Harry bergumam.
Dia menyesal memberikan perintah ini begitu Neville mematuhinya. Tanpa
celah panjang yang meneruskan cahaya dari koridor yang diterangi obor di
belakang mereka, tempat itu menjadi begitu gelap sehingga sejenak satu-satunya
hal yang bisa mereka lihat hanyalah kumpulan nyala api biru yang bergetar di
dinding dan pantulannya yang remang-remang di atas lantai.
Di dalam mimpi-mimpinya, Harry selalu berjalan dengan tujuan tertentu
menyeberangi ruangan ini ke pintu yang langsung berada di seberang pintu
masuknya dan berjalan terus. Tetapi ada sekitar selusin pintu di sini. Persis
ketika dia sedang memandangi pintu-pintu di seberangnya, mencoba
memutuskan mana yang benar, ada suara gemuruh hebat dan lilin-lilin mulai
bergerak ke samping. Dinding melingkar itu sedang berputar.
Hermione meraih lengan Harry seolah-olah takut lantai mungkin bergerak juga,
tetapi tidak. Selama beberapa detik, nyala api biru di sekeliling mereka menjadi
buram menyerupai deretan neon selagi dinding semakin cepat berputar; lalu,
sama mendadaknya dengan mulanya, gemuruh itu berhenti dan semuanya
menjadi diam sekali lagi.
Mata Harry membara dengan garis-garis biru; hanya itu yang bisa dilihatnya.
'Tentang apa itu tadi?' bisik Ron dengan takut.
'Kukira itu untuk menghentikan kita mengetahui dari pintu mana kita masuk,'
kata Ginny dengan suara berbisik.

