Page 703 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 703

Keping 99


             “Dua belas tahun kita bareng dan kamu masih saja mau
           percaya teori ngawur macam itu?”
             Dimas mencomot salah satu buku dari serakan di sekitarnya,

           melemparnya ke arah Reuben sambil tertawa.
             Reuben membiarkan buku yang dilempar Dimas
           membentur tubuhnya. Matanya menyorot lembut. “Mungkin
           sudah saatnya kita serumah.”
             Dimas meraupkan tangannya ke muka,  “Oh. Reuben.
           Setelah  kamu  menjajah  rak  bukuku  yang  sekarang  isinya
           sembilan puluh persen bukumu, kamu masih mau menjajah
           tempat tidurku yang bakal terisi tiga perempatnya dengan
           badanmu?”

             “I’ll do those sit-ups.”
             “Seratus, minimal. Setiap hari.”
             “Sembilan sembilan. Aku suka angka ganjil.”
             Dimas tersenyum. “Welcome home.”
             Kedua pria itu lalu duduk berhadapan. Kehangatan
           terpancar dari mata mereka. Rasa itu memang masih ada.
           Masa  dua  belas  tahun  tidak  mengaratkan  esensi,  sekalipun
           menyusutkan bara. Tidak lagi bergejolak, tapi hangat. Hangat
           yang tampaknya kekal.







           Dari kejauhan, sinar  matahari yang menyentuh permukaan
           Sungai Yarlung membentuk siluet menyerupai ular berkilau.
           Kedua orang itu berdiri dengan sikap sempurna di atas cadas,


           688
   698   699   700   701   702   703   704   705   706   707   708