Page 56 - In a Blue Moon
P. 56
cam kue untuk mereka. Setelah si pelayan pergi, Lucas me-
lihat gadis itu melotot ke arahnya.
”Kita tidak menunggu kakekmu dulu sebelum memesan?”
tanyanya.
Lucas memilih kursi di hadapan gadis itu dan duduk ber-
sandar. ”Kakekku pasti tidak keberatan apabila kita memesan
lebih dulu. Lagi pula aku agak lapar. Mereka membuat scone
yang enak di sini. Walaupun, tentu saja, aku yakin scone
buatanmu lebih enak.”
Sophie menatapnya dengan tajam, namun tidak berkomen-
tar apa-apa. Ia merogoh tas, mengeluarkan ponsel, menyen-
tuh layarnya beberapa kali, lalu menempelkannya ke telinga.
Lucas mengambil kesempatan itu untuk mengamati gadis
yang duduk di hadapannya. Waktu sepuluh tahun telah
54
mengubah Sophie Wilson. Wajahnya yang dulu kurus ke-
kanak-kanakan kini terlihat dewasa dan tajam, gerak-geriknya
yang dulu canggung seperti kebanyakan anak remaja, kini
terlihat anggun dan terkendali, mata cokelatnya yang dulu
polos dan berkilat-kilat riang kini terlihat serius dan dingin.
Perasaan Lucas tidak enak memikirkan bahwa dirinyalah
yang mungkin telah melenyapkan kehangatan di mata cokelat
gelap itu.
Sophie menurunkan ponsel dari telinga dan berkata tanpa
menatap Lucas, ”Kakekku tidak menjawab telepon. Coba
telepon kakekmu. Aku ingin tahu mereka sudah sampai di
mana.”
Lucas tidak langsung bereaksi. Ia menatap Sophie sambil
berpikir. Setelah beberapa saat, ia memutuskan menanyakan
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 54 3/30/2015 10:43:12 AM

