Page 7 - MODUL SKI 9_
P. 7
Halaman 7
KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai
bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
Organisasi Muhammadiyah yang didirikannya telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni
kepada bangsanya, yakni menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat
dengan dasar iman dan Islam.
Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi
kebangkitan dan kemajuan bangsa dengan jiwa ajaran Islam
Organisasi kewanitaan Muhammadiyah (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita
Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial setingkat dengan kaum pria.
2. KH. Hasyim Asy’arI
KH. Hasyim Asy’ari lahir dengan nama kecil Muhammad Hasyim. Beliau lahir di Pondok Gedang Diwek, Jombang,
Jawa Timur pada Selasa, 24 Dzulqa’dah 1287 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. Ada
sedikit kisah karamah terkait nama kecil beliau. Ketika dalam kandungan dan kelahirannya, tampak adanya
sebuah isyarat yang menunjukkan kebesarannya. Pertama, ketika di dalam kandungan, Nyai Halimah bermimpi
melihat bulan purnama yang jatuh ke dalam kandungannya. Kedua, ketika melahirkan Nyai Halimah tidak
merasakan sakit seperti yang umumnya dirasakan wanita saat melahirkan.
Ayah beliau bernama Kiai Asy’ari, yakni pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibu
beliau bernama Nyai Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI.
Adapun dari garis ayah, beliau keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Raja Pajang). Karya dan jasa Kiai Hasyim
Asy’ari tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren
KH. Hasyim Asy’ari ketika berusia 15 tahun mulai mengembara untuk menuntut ilmu. Beliau belajar ke pondok-
pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Beberapa di antaranya adalah Pondok
Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, serta Langitan di Tuban.
Beliau kemudian juga nyantri di Bangkalan Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif
(Syaikhuna Khalil)
Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 Hijriah atau 1891
Masehi), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa untuk belajar di Pesantren Siwalan, Sono, Sidoarjo, di bawah
bimbingan K.H. Ya’qub yang dikenal menguasai ilmu nahwu dan sharaf. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub
semakin mengenal dekat KH. Hasyim Asy’ari hingga tertarik untuk menjadikannya menantu. KH. Hasyim Asy’ari
yang saat itu baru berusia 21 tahun pun menikah dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub. Tidak lama setelah
pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Makkah
untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya.
Di samping menunaikan ibadah haji, di Makkah KH. Hasyim Asy’ari
juga memperdalam ilmu yang telah dipelajarinya serta menyerap
ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu
agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
hadits Rasulullah Saw. yang telah menjadi kecintaannya sejak kecil.
Setelah tujuh bulan bermukim di Makkah, beliau dikaruniai putra
yang diberi nama Abdullah. Namun, di tengah kegembiraan
memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan
kemudian meninggal dunia. Empat puluh hari kemudian, putra
beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke hadirat
Allah
Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai
seorang ulama nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur
hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lain
yang hampir tak pernah berhenti dilakukannya. Di samping itu,
beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang
senantiasa dikaji setiap saat. Sampai akhirnya, beliau
meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tanah air bersama mertuanya.

